TVRINews – Washington DC
Gedung Putih menangguhkan serangan udara untuk malam kedua berturut-turut di tengah penipisan pasokan amunisi dan desakan diplomasi untuk menghindari eskalasi perang total.
Washington menangguhkan operasi pemboman terhadap Iran untuk malam kedua berturut-turut pada akhir pekan ini (Sabtu – Minggu 25 – 26 Juli 2026). Keputusan tersebut diambil setelah jajaran petinggi militer Amerika Serikat memperingatkan Presiden Donald Trump mengenai batas efektivitas kampanye militer serta persediaan amunisi strategis yang semakin menipis.
Penghentian ini menandai jeda pertama dalam hampir dua pekan terakhir di tengah konflik yang telah berlangsung selama hampir lima bulan. Para pejabat senior di pemerintahan Trump melaporkan bahwa cadangan persenjataan, termasuk rudal penjelajah Tomahawk dan pencegat rudal Patriot, berada pada tingkat yang membatasi kemampuan mempertahankan operasi militer jangka panjang di kawasan tersebut.
Laksamana Bradley Cooper, komandan tertinggi militer AS di kawasan itu, dilaporkan menyampaikan kepada Presiden Trump bahwa kampanye militer telah mencapai titik jenuh efektivitasnya.
Militer AS dinilai hampir kehabisan daftar sasaran strategis di Iran, sehingga kelanjutan pemboman dinilai tidak lagi memberikan dampak taktis yang signifikan tanpa pergeseran menuju operasi darat skala besar.

Grafis Ilustrasi: TVRINews.com (sumber data: The Guardian)
Di sisi lain, upaya diplomasi intensif terus berjalan. Perunding senior dari Iran dan Oman dilaporkan menggelar perundingan guna membuka kembali Selat Hormuz, jalur perairan vital yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa para mediator sedang berupaya mencegah eskalasi ketegangan lebih lanjut.
"Mediator sedang bekerja dan berusaha mencegah ketegangan agar tidak meningkat," ujar Baghaei dalam konferensi pers, Minggu 26 Juli 2026.
Sementara itu, pihak militer Iran mengonfirmasi adanya penghentian serangan balasan. Juru bicara angkatan darat Iran, Mohammad Akraminia, menyatakan bahwa operasi militer mereka pada dasarnya bersifat reaktif terhadap tindakan Washington.

Unit tentara Israel menggelar serangan di dekat Nablus di Tepi Barat yang diduduki setelah tewasnya empat warga Palestina dan dua warga Israel di sebuah desa. (Foto: Mohammed Torokman/Reuters)
"Serangan tersebut berlanjut hingga dua malam lalu, tetapi dalam dua malam terakhir pihak Amerika telah menghentikan serangan mereka. Strategi kami pada dasarnya bersifat membalas, kami juga telah menghentikan operasi pembalasan kami," kata Akraminia kutip The Guardian senin 27 Juli 2026.
Di Washington, perdebatan internal masih berlanjut menjelang kunjungan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ke Gedung Putih pada hari Selasa. Netanyahu, yang merupakan kritikus tajam terhadap negosiasi antara Washington dan Teheran, didesak oleh tekanan politik domestik menjelang pemilihan umum pada Oktober mendatang. Ia diperkirakan akan terus menekan AS agar mempertahankan tekanan militer terhadap Iran.
Meskipun demikian, Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Gabungan Kepala Staf Militer, Jenderal Dan Caine, dilaporkan telah memperingatkan Presiden Trump dalam sebuah pertemuan di Ruang Oval mengenai risiko dan keterbatasan logistik dari kelanjutan kampanye militer ini. Trump sendiri mengisyaratkan keterbukaan terhadap jalur dialog, meski menegaskan bahwa Washington tetap memegang opsi militer jika diperlukan.
"Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang," ujar Trump kepada para wartawan. "Saya pikir mereka semakin serius seiring berjalannya hari. Kami siap siaga, tetapi kami sedang berdialog dengan mereka."









