TVRINews - Teheran
Ketegangan Selat Hormuz berlanjut setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru ke wilayah Iran.
Konflik geopolitik global kembali mencatatkan eskalasi tajam setelah militer Amerika Serikat mengumumkan gelombang serangan lanjutan ke wilayah Iran, menyusul perluasan medan pertempuran yang kini mengancam jalur perdagangan dan distribusi energi internasional.
Berdasarkan laporan Associated Press (AP), Komando Sentral Amerika Serikat (US Central Command) menyatakan bahwa operasi militer yang memasuki malam ketigabelas tersebut difokuskan untuk membatasi kemampuan Teheran dalam mengancam keselamatan pelayaran sipil serta kapal komersial yang melintasi perairan regional.
Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan adanya serangkaian ledakan di sepanjang Selat Qeshm dan Bandar Abbas, yang turut memicu korban luka di kalangan warga setempat.
Situasi kian memanas setelah kelompok Houthi di Yaman mengonfirmasi serangan terhadap dua tanker minyak milik Saudi di Laut Merah. Insiden ini langsung berdampak pada lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus level 100 dolar Amerika Serikat per barel, atau level tertinggi sejak bulan Mei lalu.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras melalui platform media sosial resminya. Ia menegaskan bahwa Washington akan meminta pertanggungjawaban penuh dari Iran atas setiap tindakan yang dilakukan oleh kelompok proksinya.
(Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi (tengah) dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian (kiri) dalam upacara penyambutan resminya di Teheran, Iran, Kamis, 22 Juli 2026. (Foto: Kantor Kepresidenan Iran via AP))
"Jika mereka melakukan ini lagi, AS akan memegang Iran bertanggung jawab, mengingat Houthi adalah proksi dari Iran, dan hukuman militer besar akan dijatuhkan kepada Iran dan tentu saja kepada Houthi sendiri," ujar Presiden Donald Trump dalam pernyataan resminya, Kamis, 23 Juli 2026.
Dampak ekonomi global kini mulai dirasakan secara luas. Perusahaan analisis data maritim, Lloyd's List Intelligence, menilai serangan terhadap tanker di Laut Merah memberikan pukulan telak ganda menyusul terganggunya distribusi di Selat Hormuz.
Jalur darat alternatif yang diandalkan Arab Saudi untuk mengalihkan ekspor minyak melalui Pelabuhan Yanbu kini turut berada dalam bayang-bayang ancaman blokade lanjutan.
Upaya diplomatik terus digencarkan oleh berbagai pihak guna mencegah perluasan krisis. Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi dilaporkan berkunjung ke Teheran untuk mendorong dialog damai, sementara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa kawasan tersebut tengah ditarik ke dalam lingkaran konfrontasi yang kian meluas.
"Diplomasi adalah satu-satunya jalan ke depan," tegas Guterres di hadapan Dewan Keamanan PBB, sembari menyerukan penguatan upaya mediasi internasional untuk mengakhiri eskalasi bersenjata ini.









