TVRINews – Washington
Data Korban Militer AS Dipindah, Transparansi Pentagon Dipertanyakan.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengubah sistem pencatatan resmi terkait korban jiwa akibat eskalasi konflik militer dengan Iran. Empat prajurit yang gugur dalam pertempuran baru-baru ini dipindahkan dari data resmi korban perang ke dalam kategori terpisah.
Perubahan pada Sistem Analisis Korban Pertahanan atau Defense Casualty Analysis System tersebut memicu perdebatan mengenai akurasi pelaporan dampak konflik di kalangan internal militer. Kebijakan ini muncul di tengah intensitas serangan Amerika Serikat di kawasan Teluk untuk mengamankan jalur pelayaran Selat Hormuz, meski strategi penyelesaian konflik masih belum jelas.
Berdasarkan pembaruan sistem daring pada minggu 26 juli 2026 , kategori baru bernama “Operasi Luar Negeri” muncul di situs resmi lembaga tersebut. Kategori itu mencantumkan empat nama tentara Angkatan Darat yang tewas beserta 207 personel yang mengalami luka-luka.
Komando Pusat Amerika Serikat yang mengawasi operasional di Timur Tengah belum memberikan keterangan resmi dan mengarahkan seluruh pertanyaan kepada pihak Pentagon. Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih dan Pentagon belum merespons permintaan konfirmasi.
Sebelumnya, juru bicara Pentagon, Joel Valdez, membantah bahwa penurunan angka korban pada sistem daring merupakan upaya menyembunyikan eskalasi korban jiwa. Ia mengeklaim fluktuasi tersebut disebabkan oleh gangguan data sementara yang sedang diperbaiki.
Namun, pergerakan angka korban dalam sistem tersebut kerap berubah dalam beberapa hari terakhir. Sempat tercatat 18 prajurit tewas dan 482 terluka, sebelum akhirnya data korban perang Iran kembali turun menjadi 14 kematian.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah sempat mereda lewat kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni lalu. Ketegangan tersulut kembali pascalaporan serangan terhadap kapal-kapal niaga di Selat Hormuz awal Juli, yang kemudian dibalas oleh operasi militer Washington.
Sejak pertempuran jilid kedua ini dimulai, Pentagon dinilai lebih tertutup dalam menyampaikan rincian strategi maupun data korban kepada publik dibandingkan fase awal konflik pada Februari lalu. Di sisi lain, para pejabat pertahanan tetap bersikeras bahwa sistem pencatatan digital tersebut merupakan bentuk komitmen transparansi institusi terhadap publik dan keluarga korban.









