TVRINews – Washington DC
Tekanan inflasi dan krisis energi global membuat otoritas moneter Amerika Serikat belum mengubah arah kebijakan suku bunga.
Federal Reserve (The Fed) secara resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil untuk kelima kalinya secara berturut-turut pada kisaran 3,5% hingga 3,75%.
Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan kekhawatiran meluasnya dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan serta harga energi dunia.
Dalam konferensi pers Rabu 29 Juli 2026, usai pengumuman kebijakan tersebut, Gubernur The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa otoritas moneter tidak memiliki instrumen instan untuk meredakan beban biaya hidup yang dirasakan oleh masyarakat luas. Ia menekankan bahwa proses stabilisasi harga memerlukan waktu serta konsistensi kebijakan yang terukur.

(Gubernur The Fed, Kevin Warsh dihadapan para wartawan (Foto: AP News))
"Kami sedang bekerja, kami akan memenuhinya, kami sangat fokus untuk memastikan kami dapat melakukannya, tetapi anggapan bahwa kami akan mampu melambaikannya dengan tongkat ajaib adalah hal yang ingin saya luruskan kepada Anda dan semua orang," ujar Gubernur The Fed, Kevin Warsh, di hadapan para awak media.
Dinamika Internal dan Tekanan Inflasi
Keputusan mempertahankan suku bunga ini tidak diambil secara bulat oleh dewan gubernur. The Fed mencatat hasil voting 9-3, di mana tiga pejabat memilih untuk mendorong kenaikan suku bunga kecil sebagai langkah antisipatif terhadap potensi lonjakan inflasi lanjutan. Warsh sendiri menyebut proses perdebatan internal tersebut sebagai sebuah dinamika institusional yang sehat dan dirancang memang untuk menguji berbagai sudut pandang kebijakan.
Tekanan inflasi di Amerika Serikat diketahui masih berada di atas target bank sentral sebesar 2% yang telah berlangsung lebih dari lima tahun. Meskipun angka inflasi tahunan melandai ke level 3,5% hingga Juni, para pengamat mencatat bahwa penurunan tersebut tidak mengindikasikan penurunan harga barang secara absolut, melainkan perlambatan laju kenaikan harga di tingkat konsumen.
Faktor Energi dan Gejolak Pasar Keuangan
Kekhawatiran utama pasar saat ini tertuju pada pasar komoditas energi global. Patokan minyak mentah dunia Brent dilaporkan melonjak lebih dari 6% hingga melampaui $89 per barel menyusul ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran.
Richard Flynn, Direktur Pelaksana Charles Schwab UK, menilai bahwa dinamika pasar energi akan menjadi indikator paling krusial bagi arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Dampak keputusan bank sentral ini seketika tercermin di lantai bursa. Indeks acuan S&P 500 merosot ke level terendah dalam sebulan, sementara indeks berbasis teknologi Nasdaq mencatatkan koreksi sekitar 9% dari rekor tertingginya pada Juni lalu.
Indeks Dow Jones turut terkoreksi sebesar 2,19% dalam sesi perdagangan hari yang sama, dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap valuasi sektor teknologi dan lonjakan biaya energi.
Tantangan Politik di Tengah Kalender Pemilu
Di sisi lain, dinamika kebijakan moneter ini tidak dapat dilepaskan dari konteks politik domestik Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump, yang menunjuk Warsh pada bulan Mei lalu, sebelumnya secara terbuka mengekspektasikan adanya penurunan biaya pinjaman bagi masyarakat. Namun, kepemimpinan baru The Fed tetap berkomitmen penuh untuk menjaga independensi institusi.
Richard Carter, Kepala Riset Pendapatan Tetap di Quilter Cheviot, mengamati bahwa pemerintah akan terus memantau ketat langkah bank sentral, terutama dengan semakin dekatnya jadwal pemilihan paruh waktu (mid-term elections).
"Pemerintah tentu ingin menyampaikan narasi ekonomi yang positif menjelang pemilu. Namun, inflasi yang tetap tinggi dan potensi pengetatan lanjutan tentu membuat narasi tersebut semakin sulit dicapai," ungkap Richard Carter.









