TVRINews – Riyadh
Keterlibatan Terbuka Riyadh dan Washington dalam Serangan ke Irak Dorong Eskalasi Kawasan ke Wilayah yang Belum Pernah Dipetakan
Serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap milisi pro-Iran di Irak telah mendorong kawasan Timur Tengah ke dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Keputusan Riyadh untuk secara terbuka bergabung dengan Washington menandai titik balik baru dalam konflik yang semakin meluas dan sulit diprediksi.
Berdasarkan laporan eksklusif dari pemberitaan internasional The Guardian Rabu 29 Juli 2026, serangan yang menyasar fasilitas Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) di Irak tersebut menewaskan sedikitnya 20 pejuang.
Tindakan ini langsung memicu kecaman keras dari pemerintah Irak yang menilai langkah tersebut sebagai pelanggaran telak terhadap kedaulatan negara.
"Kita berada di wilayah yang belum pernah dipetakan, bukan hanya karena konteks perang tahun ini, tetapi juga karena isu-isu yang lebih luas di kawasan," ujar Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga think tank Chatham House.
Eskalasi ini kian kompleks setelah Iran meluncurkan rentetan rudal balistik ke instalasi militer Amerika Serikat di Yordania. Aksi saling balas tersebut mengakhiri jeda singkat pertempuran langsung antara Washington dan Teheran, sementara kelompok Houthi di Yaman sebelumnya telah mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi di Laut Merah.
Dampak langsung dari ketegangan ini terlihat dalam bidang diplomasi. Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, secara resmi membatalkan agenda pertemuan penting yang telah direncanakan dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, di Jeddah.
Para pengamat geopolitik internasional menilai bahwa langkah agresif Arab Saudi didasari oleh kekhawatiran strategis. HA Hellyer, seorang peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI), menjelaskan bahwa Riyadh berupaya mengirim sinyal tegas kepada Teheran.
"Ada perasaan bahwa kaum elit Iran berbuat demikian karena mereka berasumsi negara-negara Teluk Arab tidak akan meningkatkan tangga eskalasi. Saudi ingin memperjelas bahwa penilaian itu keliru," ungkap Hellyer.
Kendati demikian, para analis memperingatkan bahwa kalkulasi militer semacam ini mengandung risiko tinggi yang sulit diantisipasi. Dengan tertutupnya Selat Hormuz yang menjadi jalur utama ekspor minyak Irak serta insiden ledakan drone di pelabuhan Mesir, stabilitas kawasan kini berada di ambang ketidakpastian total.









