TVRINews – Jakarta
Ketidakpastian Suku Bunga dan Konflik Timur Tengah Picu Kejatuhan Pasar Saham Regional
Bursa saham di kawasan Asia diproyeksikan membuka perdagangan dengan tren negatif, mengekor pelemahan signifikan di Wall Street. Sentimen investor global tertekan oleh kombinasi kekhawatiran atas tingginya belanja modal sektor kecerdasan buatan, ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed), serta eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali mendongkrak harga minyak mentah.
Kontrak berjangka indeks saham utama di kawasan, termasuk Australia, Jepang, dan Korea Selatan, mengindikasikan pembukaan di zona merah. Tekanan ini terjadi setelah indeks S&P 500 merosot 1,5% akibat aksi jual masif pada saham-saham sektor semikonduktor.
Sementara itu, indeks Nasdaq 100 secara resmi memasuki fase koreksi teknis setelah terkoreksi hingga 11% dari rekor tertinggi sebelumnya.
Ketidakpastian kian meningkat menyusul keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan. Kebijakan tersebut diiringi oleh perbedaan pendapat di antara para pejabat bank sentral, di mana tiga dari 12 pengambil kebijakan memilih opsi kenaikan suku bunga demi meredam risiko inflasi. Absennya panduan kebijakan lanjutan membuat para pelaku pasar kesulitan membaca arah langkah moneter berikutnya.
Kondisi tersebut mendorong kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) semakin curam. Imbal hasil Treasury tenor 30-tahun melonjak lebih dari 10 basis poin ke level tertinggi sejak 2007 di angka 4,66% untuk tenor 10-tahun, sementara imbal hasil dua tahun justru melemah ke level 4,23%.
Kepala Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, menilai kebijakan terbaru bank sentral meninggalkan celah informasi yang lebar bagi pelaku industri keuangan.
"Pasar saat ini nyaris tidak memiliki pegangan yang jelas," ujar Slok kepada Bloomberg Television International yang dikutip kamis 30 Juli 2026, seraya menyoroti bahwa ketiadaan panduan resmi memicu volatilitas tinggi di pasar obligasi.
Di sisi komoditas, harga minyak dunia kembali melambung setelah sempat mencatat tren penurunan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Minyak mentah Brent ditutup mendekati level US$91 per barel, melonjak sekitar 8% di tengah kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat konflik bersenjata di Timur Tengah.
Analis RBC Capital Markets LLC yang dipimpin oleh Helima Croft dalam risetnya menyatakan skeptis terhadap potensi resolusi damai dalam waktu dekat. Risiko keamanan jalur pelayaran strategis akibat ancaman militer diperkirakan masih akan mendominasi sentimen pasar energi global dalam jangka pendek.









