TVRINews – Kyiv
Kelalaian fatal di dekat pemukiman warga memicu kecaman keras setelah serangan drone Rusia menghantam pinggiran ibu kota Ukraina.
Sebanyak 37 orang dilaporkan tewas dan hampir 400 lainnya harus dievakuasi menyusul serangan drone militer Rusia yang menghantam sebuah fasilitas penyimpanan amunisi di kawasan pemukiman penduduk, wilayah pinggiran Kyiv Sabtu 29 Agustus 2026.
Insiden yang terjadi pada Jumat malam tersebut memicu ledakan sekunder hebat setelah sejumlah peluru, ranjau, dan drone ikut meledak di lokasi.
Dampak ledakan merusak parah properti di sekitarnya, termasuk sebuah panti jompo untuk warga lanjut usia dan penyandang disabilitas. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara terbuka melontarkan kritik tajam atas keberadaan fasilitas militer tersebut di area sipil.
"Lokasi penyimpanan itu jelas tidak seharusnya berada di sana," ujar Zelensky dalam keterangannya yang dikuitp BBC News minggu 30 Agustus 2026, seraya mengonfirmasi bahwa penyelidikan resmi telah dimulai untuk mengusut dugaan kelalaian berat pihak berwenang dalam menyimpan bahan peledak di dekat pemukiman warga.
Berdasarkan data dari kepala administrasi regional, Tymur Tkachenko, operasi penyelamatan masih berlangsung di Distrik Bucha pada hari Sabtu. Tercatat 42 orang mengalami luka-luka, termasuk empat anak-anak.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia melalui pernyataan resminya mengonfirmasi bahwa pasukannya memang menargetkan sebuah "gudang amunisi" di Desa Myla, sebelah barat ibu kota Ukraina.
Fasilitas tersebut diklaim memegang komponen serta peluncur untuk drone jarak jauh. Ledakan dahsyat akibat serangan itu merusak sekitar 130 rumah warga setempat.
Liubov Pavlenko, seorang warga berusia 45 tahun yang rumahnya berada sekitar 200 meter dari gudang amunisi tersebut, mengungkapkan kepedihan mendalam kepada BBC.
"Semuanya hancur total. Retakan muncul di seluruh bagian bangunan dan jendela. Pada dasarnya, integritas struktural rumah ini telah rusak," tutur Liubov dengan nada getir. "Saya masih merasa mati rasa. Mungkin esok hari dampaknya akan terasa lebih berat."
Pemerintah Ukraina bergerak cepat menanggapi insiden ini. Kantor Jaksa Agung Ukraina menyatakan tengah meninjau legalitas penempatan dan penyimpanan material eksplosif di dekat kawasan hunian di Myla, sekaligus menyelidiki tindakan para pejabat yang mengambil keputusan tersebut.
Kemarahan publik semakin memuncak mengingat tragedi serupa pernah terjadi di Vyshneve pada bulan Juli lalu, di mana ledakan gudang amunisi merenggut sembilan nyawa dan merusak lebih dari 280 rumah. Perdana Menteri Ukraina, Sergiy Koretsky, secara terbuka menyesalkan kegagalan instansi terkait dalam memetik pelajaran dari insiden sebelumnya.
"Di tahun kelima invasi skala penuh, mengulangi kesalahan yang sama secara terus-menerus adalah bentuk kelalaian kriminal," tegas Koretsky melalui saluran Telegram resminya. Ia menambahkan bahwa setiap pihak yang bertanggung jawab harus menerima sanksi berat tanpa pengecualian.
Sementara itu, eskalasi serangan udara dilaporkan terus meningkat di berbagai wilayah Ukraina dan Rusia dalam beberapa bulan terakhir, yang turut berdampak pada fasilitas logistik serta keselamatan warga sipil di kedua belah pihak.










