TVRINews – Teheran,Iran
Majelis Permusyawaratan Islam Iran menyetujui penunjukan Mehrdad Akhlaghi Ketabchi untuk menggantikan Aziz Nasirzadeh yang tewas dalam konflik bersenjata.
Parlemen Iran secara resmi mengesahkan penunjukan Mehrdad Akhlaghi Ketabchi sebagai Menteri Pertahanan Iran yang baru dalam sidang paripurna virtual pada Minggu 18 Oktober 2026.
Akhlaghi, seorang teknokrat kawakan yang telah hampir dua dekade berada di bawah sanksi internasional akibat keterlibatannya dalam program rudal balistik, menggantikan Aziz Nasirzadeh yang gugur pada awal masa konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pemungutan suara yang dihadiri 277 anggota parlemen, Akhlaghi meraih dukungan mayoritas mutlak dengan 237 suara setuju dan 15 suara menolak. Penunjukan ini menandai pergeseran strategi kepemimpinan di Kementerian Pertahanan Iran, yang sebelumnya lebih sering dipegang oleh komandan lapangan militer.
Dari Rekayasa Teknik hingga Puncak Industri Pertahanan
Lahir di Rasht pada 10 September 1958, Akhlaghi menempuh pendidikan teknik kimia di Amirkabir University of Technology sebelum meraih gelar magister manajemen strategis dari Malek Ashtar University of Technology lembaga akademik yang berafiliasi langsung dengan Kementerian Pertahanan Iran.

(Menteri Pertahanan Iran yang baru, Mehrdad Akhlaghi Ketabchi (kanan), disambut oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Menteri Pertahanan Majid Ebn al-Reza dalam sebuah pertemuan para pejabat tinggi militer. [Foto: iranintl])
Karier profesionalnya membentang selama lebih dari empat dekade di dalam ekosistem manufaktur senjata Iran. Berbeda dari para pendahulunya, Akhlaghi memfokuskan sebagian besar kariernya pada pengembangan sistem propulsi rudal bahan bakar padat. Teknologi ini memungkinkan sistem persenjataan disimpan dalam jangka panjang dan siap diluncurkan dalam waktu singkat, yang menjadi pilar utama kapabilitas rudal balistik Iran.
Sebelum menjabat sebagai menteri, ia pernah memimpin Organisasi Industri Kedirgantaraan (AIO) serta Organisasi Industri Pertahanan (DIO), lembaga yang bertanggung jawab atas produksi persenjataan konvensional dan pasokan perlengkapan militer bagi angkatan bersenjata Iran.
Rekam Jejak Proyek Fateh-110 dan Rekan Dekat Tehrani Moghaddam
Peran strategis Akhlaghi dalam modernisasi militer Iran terikat erat dengan kemitraannya bersama Hassan Tehrani Moghaddam, sosok yang dikenal luas sebagai pilar utama program rudal balistik Garda Revolusi Iran (IRGC).
Berdasarkan dokumen biografi The Eternal Man karya Masoumeh Sepehri yang dikutip kantor berita Tasnim, Akhlaghi memainkan peran kunci dalam menyetujui alokasi dana sebesar USD 10 juta untuk pengadaan peralatan dan fasilitas produksi rudal Fateh-110. Langkah berisiko tinggi tersebut diambil di tengah ketidakpastian keberhasilan proyek pada masa awal pengembangannya.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pidatonya di hadapan parlemen turut menegaskan kontribusi bersejarah Akhlaghi bersama Tehrani Moghaddam dalam membangun fondasi kemandirian militer Iran.

(Menteri Pertahanan Iran yang baru, Mehrdad Akhlaghi Ketabchi, menyampaikan pidato di hadapan para anggota parlemen dalam sidang paripurna virtual. [Foto: iranint])
Jejak Sanksi Global Selama Dua Dekade
Keterlibatan mendalam Akhlaghi dalam program rudal membuatnya masuk dalam daftar sanksi berbagai lembaga internasional dan negara Barat sejak 2007:
• PBB: Dimasukkan dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 1747 pada 24 Maret 2007 sebagai Kepala Shahid Bagheri Industrial Group, serta didaftarkan kembali pasca-penerapan ulang sanksi internasional pada September 2025.
• Amerika Serikat: Diberikan sanksi oleh Departemen Keuangan AS pada 2008 dan ditargetkan kembali oleh pemerintah AS pada 2020 atas perannya di DIO.
• Uni Eropa & Inggris: Eropa melarang transaksi dengan Akhlaghi atas jabatannya di AIO dan DIO, sementara Inggris mengenakan sanksi pada 2023 terkait pengembangan sistem pengirim senjata nuklir.
Prioritas Penguatan Pertahanan Air dan Industri Senjata
Dalam pemaparannya di parlemen, Akhlaghi merinci program kerja utamanya yang berfokus pada rekonstruksi fasilitas industri militer yang rusak, peningkatan efisiensi produksi, serta pembaruan sistem pertahanan udara.
Ia mematok target untuk memangkas siklus pengerjaan teknologi pertahanan baru menjadi maksimal enam bulan. Selain itu, Kementerian Pertahanan berencana mengalihdayakan hingga 85 persen produksi non-rahasia kepada perusahaan swasta dan universitas pada tahun mendatang, sementara manufaktur persenjataan berkualifikasi rahasia tinggi tetap berada di bawah kendali penuh kementerian.
Akhlaghi menyatakan bahwa kapabilitas militer Iran telah berhasil menekan ruang gerak lawan dalam dinamika keamanan kawasan terkini.
"Kemampuan ini telah membawa pihak lawan pada titik krusial dan menempatkan mereka dalam kebuntuan strategis," ujar Akhlaghi di hadapan para anggota majelis.
Peringatan Terbuka terhadap Washington
Di sela-sela sidang parlemen, Akhlaghi menyampaikan respons tegas menanggapi spekulasi mengenai potensi penggunaan amunisi berat oleh pihak Amerika Serikat di wilayah kawasan.
"Pihak luar seharusnya memikirkan cara menarik pasukannya dari wilayah kami secara selamat. Setiap tindakan militer balasan akan membawa konsekuensi langsung terhadap keselamatan personel mereka di lapangan," tegas Akhlaghi kepada awak media.
Pernyataan tersebut mengemuka di tengah meningkatnya ketegangan kawasan pasca-pernyataan pejabat pertahanan AS terkait potensi tindakan militer terhadap fasilitas strategis di Natanz.
Tantangan Rekonstruksi Pasca-Konflik
Pengesahan Akhlaghi dilakukan di tengah tantangan berat untuk memulihkan kapasitas manufaktur pertahanan dan memperkuat pertahanan udara pasca-konflik.
Presiden Pezeshkian mengonfirmasi bahwa penunjukan Akhlaghi telah mendapatkan dukungan penuh dari Angkatan Bersenjata Iran, IRGC, serta lembaga keamanan negara.
Keputusan menunjuk figur teknokrat yang berpengalaman di bidang manufaktur rudal menegaskan fokus kepemimpinan Iran untuk merekonstruksi infrastruktur militer dan mempertahankan kemandirian produksi persenjataan nasional.










