TVRINews - Mexico City
Presiden Meksiko Tegas Menolak Intervensi Militer AS, Meski Trump Desak Perang Terbuka Lawan Kartel—Ketegangan Diplomatik Mengancam Stabilitas Perbatasan dan Perdagangan Triliunan Dolar.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum berusaha meredam ketegangan setelah pernyataan mengejutkan dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait tawarannya untuk mengirim pasukan militer AS ke wilayah Meksiko guna memerangi kartel narkoba.
Dalam konferensi pers hariannya pada Senin (waktu setempat), Sheinbaum menegaskan bahwa komunikasi dengan Trump selama ini berlangsung “sangat baik”. Namun, ia juga menekankan bahwa kedaulatan Meksiko bukanlah sesuatu yang bisa dinegosiasikan.
Pernyataan ini muncul setelah Trump, pada akhir pekan lalu, mengonfirmasi bahwa ia memang mengusulkan pengiriman pasukan ke Meksiko karena menurutnya, “kartel adalah orang-orang mengerikan yang membunuh tanpa pandang bulu dan menghancurkan rakyat kami dengan narkoba.
Trump bahkan menyatakan bahwa Sheinbaum adalah sosok “menyenangkan” namun “terlalu takut pada kartel hingga tak bisa berpikir jernih
Meski terjadi ketegangan dalam pernyataan publik, hubungan antara Sheinbaum dan Trump secara umum masih relatif harmonis dibandingkan dengan para pemimpin dunia lain yang kerap berbenturan dengan Trump.
Namun, dinamika ini mencerminkan jalan diplomasi yang sulit sedang ditempuh Sheinbaum: di satu sisi menjaga hubungan baik dan perdagangan bernilai hampir satu triliun dolar AS dengan Amerika Serikat, di sisi lain mempertahankan kedaulatan nasional di tengah tekanan politik yang keras.
Sejak Trump kembali menjabat pada Januari lalu, ia telah memberlakukan berbagai skema tarif terhadap Meksiko, dengan dalih untuk menekan arus migran gelap dan fentanyl ke AS. Pemerintahan Sheinbaum pun merespons dengan sejumlah langkah drastis, termasuk mengirim 10.000 personel tambahan ke perbatasan dan mengekstradisi puluhan tokoh kartel ke AS, seperti Rafael Caro Quintero, tokoh terkenal yang terlibat dalam pembunuhan agen DEA pada 1985.
Tak hanya itu, Sheinbaum juga mengubah pendekatan keamanan nasional Meksiko. Jika pendahulunya, Andrés Manuel López Obrador, dikenal mengusung strategi “pelukan bukan peluru”, maka Sheinbaum memilih jalur konfrontatif. Dalam beberapa bulan terakhir, terjadi lonjakan penangkapan anggota kartel serta penyitaan narkoba dan senjata.
Will Freeman, peneliti dari Council on Foreign Relations di AS, menyatakan bahwa tekanan Trump justru memberikan ruang gerak lebih bagi Sheinbaum untuk mengambil langkah tegas. “Trump menciptakan tekanan nyata yang memaksa Meksiko bertindak. Meski Sheinbaum memang ingin bertindak sejak awal, tekanan ini mempercepat langkahnya,” katanya.
Namun, apakah militerisasi adalah jawaban yang tepat? Sejumlah ahli mempertanyakan efektivitas pendekatan militer dalam memberantas kejahatan terorganisir di Meksiko. “Yang dibutuhkan adalah intelijen, sistem peradilan yang akuntabel, dan kemauan politik,” ujar Freeman.
Cecilia Farfán-Méndez dari Global Initiative against Transnational Organised Crime juga memperingatkan bahwa meski tampak mustahil, aksi militer unilateral AS tetap mungkin terjadi. “Pemerintah Meksiko tidak bisa berasumsi bahwa hal itu tak akan terjadi hanya karena itu ide buruk. Semua skenario harus disiapkan,” ujarnya.
Sheinbaum sendiri telah menegaskan bahwa invasi militer adalah garis merah yang tak bisa dilanggar. Tapi dengan Trump, semua kemungkinan tampaknya tetap terbuka.
Editor : Redaktur TVRINews
Baca Juga: Dampak Kebijakan OPEC+, Harga Minyak Anjlok ke Level Terendah










