TVRINews, Seoul
Pemimpin Korea Utara instruksikan perluasan kekuatan nuklir angkatan laut di tengah ketegangan regional.
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, kembali mengawasi serangkaian uji coba rudal dari kapal perusak terbarunya, Choe Hyon, sebagai bagian dari ambisi memperkuat kapabilitas operasional angkatan laut melalui persenjataan nuklir.
Laporan media pemerintah Korea Utara pada Selasa 14 April 2026 menyebutkan bahwa uji coba yang dilakukan tersebut melibatkan peluncuran dua rudal jelajah strategis dan tiga rudal anti-kapal.
Surat kabar resmi Korea Utara, Rodong Sinmun, menyatakan bahwa rudal jelajah tersebut mengudara selama lebih dari dua jam, sementara rudal anti-kapal terbang selama 30 menit melintasi Laut Kuning sebelum menghantam target dengan presisi.
Visi Persenjataan Nuklir Tanpa Batas
Dalam kunjungannya ke kapal perusak kelas 5.000 ton tersebut, Kim Jong Un menegaskan komitmen pemerintahannya untuk melakukan "perluasan tanpa batas" terhadap kekuatan nuklir negara tersebut.

Kapal Militer Korea Utara Saat Uji Coba Rudal (Foto" Korea News Service Via AP News)
"Pemerintah tetap fokus pada penguatan kekuatan nuklir dan menetapkan tugas-tugas baru guna mempertajam kemampuan serangan nuklir serta respons cepat negara," lapor Rodong Sinmun mengutip pernyataan Kim.
Kim juga dilaporkan telah meninjau rencana sistem persenjataan untuk kapal perusak ketiga dan keempat yang saat ini masih dalam proses konstruksi.
Kehadiran kapal Choe Hyon, yang pertama kali diperkenalkan pada April 2025, dipandang oleh Pyongyang sebagai langkah krusial dalam memperluas jangkauan operasional dan kemampuan serangan pendahuluan (preemptive strike).
Analisis Kapabilitas dan Keterlibatan Asing
Meski media pemerintah mengklaim kapal tersebut mampu membawa berbagai sistem senjata canggih termasuk rudal balistik berkemampuan nuklir sejumlah ahli internasional dan pejabat Korea Selatan memberikan catatan kritis.
Muncul dugaan kuat bahwa pembangunan kapal ini mendapatkan bantuan teknis dari Rusia, seiring dengan semakin eratnya hubungan militer antara Pyongyang dan Moskow.
Namun, efektivitas operasional armada baru ini masih dipertanyakan. Sebagai catatan, kapal kedua dari kelas yang sama, Kang Kon, sempat mengalami kerusakan akibat kegagalan peluncuran di pelabuhan Chongjin tahun lalu sebelum akhirnya diluncurkan kembali setelah perbaikan.
Eskalasi di Tengah Kebuntuan Diplomasi
Rangkaian uji coba ini menambah daftar panjang aktivitas militer Pyongyang di tengah retorika yang kian tajam terhadap Seoul.
Kim Jong Un kini secara resmi mendefinisikan Korea Selatan sebagai "musuh paling provokatif" dan telah menutup pintu dialog sejak kegagalan diplomasi dengan Amerika Serikat pada 2019.
Di panggung global, Korea Utara terus memperkuat porosnya dengan Rusia dan China. Selain pengiriman pasukan untuk mendukung invasi Rusia di Ukraina, Kim juga menyuarakan dukungan terhadap visi "dunia multipolar" saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, pekan lalu.










