TVRINews – Makkah
Manajemen Kebugaran Menjadi Prioritas Jelang Puncak Haji
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menerbitkan imbauan strategis bagi seluruh jemaah haji Indonesia untuk memprioritaskan manajemen kesehatan dan efisiensi aktivitas fisik, guna memastikan kondisi kebugaran jemaah tetap berada pada level optimal menjelang fase krusial ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaf, menegaskan bahwa kesiapan fisik merupakan variabel determinan dalam kelancaran rangkaian ibadah di tanah suci.
Mengingat tantangan geografis dan suhu ekstrem, jemaah diminta untuk tidak memforsir tenaga pada agenda yang bersifat non-esensial.
"Menjelang fase Armuzna, kami menginstruksikan jemaah untuk mulai menghemat energi secara terukur. Ketahanan fisik yang prima sangat dibutuhkan agar seluruh prosesi puncak haji dapat terlaksana tanpa kendala kesehatan yang berarti," ujar Maria dalam keterangan resminya yang dikutip laman resmi Kemenhaj jumat 15 Mei 2026.
Data Operasional dan Mobilisasi Jemaah
Hingga hari ke-24 penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M, otoritas melaporkan arus kedatangan jemaah berjalan sesuai skema operasional.
Data terkini menunjukkan sebanyak 152.724 jemaah yang tergabung dalam 395 kelompok terbang (kloter) telah bertolak menuju Arab Saudi.
Dari jumlah tersebut, konsentrasi jemaah di Makkah terus meningkat. Tercatat 136.422 jemaah telah tiba di kota suci tersebut setelah menyelesaikan rangkaian ibadah di Madinah.
Sementara itu, gelombang kedua melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, telah mencapai 45.914 jemaah, ditambah dengan kehadiran 10.535 jemaah haji khusus yang kini telah bersiap di Tanah Suci.
Kesiapan Infrastruktur dan Mitigasi Resiko
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi saat ini tengah melakukan finalisasi infrastruktur di wilayah Armuzna. Fokus utama meliputi aspek logistik, akomodasi tenda, serta manajemen transportasi Masyair.
“Progres kesiapan tenda di Arafah telah menyentuh angka 90 persen. Kami juga melakukan inspeksi berkala pada armada bus untuk menjamin mobilitas jemaah tetap lancar di tengah potensi kepadatan jalur,” tambah Maria.
Selain kesiapan teknis, Kemenhaj memberikan perhatian khusus pada faktor cuaca. Jemaah sangat disarankan untuk:
• Membatasi interaksi di luar ruangan pada siang hari guna menghindari sengatan panas (heatstroke).
• Menjaga pola hidrasi yang ketat untuk mencegah dehidrasi.
• Menggunakan alat pelindung diri seperti payung dan masker saat beraktivitas.
Bagi kategori jemaah risiko tinggi (risti), termasuk lansia dan penyandang disabilitas, otoritas mengimbau pengawasan melekat dari petugas kesehatan.
Tim medis di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan fasilitas rujukan di Arab Saudi tetap disiagakan secara penuh untuk melakukan pemantauan aktif dan edukasi preventif bagi jemaah.










