TVRINews – Beijing
China resmi buka pintu pasar lebih luas bagi perusahaan Amerika setelah dialog puncak selesai.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah mencapai sejumlah kesepakatan dagang yang "fantastis dan menguntungkan kedua negara" usai menggelar putaran final dialog bersama Presiden China Xi Jinping di Beijing Jumat 15 Mei 2026.
Dalam kunjungan resmi ini, Presiden AS didampingi oleh delegasi bisnis tingkat tinggi yang mencakup sektor pertanian, penerbangan, kendaraan listrik, hingga cip kecerdasan buatan (AI).
Trump menggambarkan hubungan antara kedua raksasa ekonomi ini sebagai "hubungan ekonomi paling konsekuensi di dunia."
Meski demikian, konferensi tingkat tinggi (KTT) ini sejauh ini lebih menonjolkan aspek retorika hangat dan simbolisme diplomatik ketimbang hasil ekonomi konkret.
Agenda hari pertama diwarnai oleh upacara megah dan pernyataan-pernyataan optimis, namun belum menghasilkan terobosan dagang yang menyeluruh maupun perjanjian bisnis skala besar.
Progres di Balik Pintu Tertutup
Trump dan Xi menggelar pembicaraan tertutup selama lebih dari dua jam pada Kamis lalu. Pihak Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pertemuan tersebut berjalan "sangat produktif." Berbicara di Great Hall of the People, Trump bahkan menyebutnya sebagai momentum yang berpotensi menjadi "KTT terbesar yang pernah ada."
Di sisi lain, Presiden Xi Jinping menyatakan bahwa pembicaraan dagang sebelumnya yang digelar di Korea Selatan telah menunjukkan "kemajuan." Kendati demikian, Xi menyertakan peringatan keras terkait isu sensitif Taiwan.
"Jika salah langkah dalam penanganannya, kedua negara bisa saling bertabrakan atau bahkan jatuh ke dalam konflik," tegas Xi seperti dikutip dari media pemerintah China.
Gencatan Senjata yang Rapuh.
Di luar koreografi diplomatik yang apik, belum ada kesepakatan dagang mayor atau perubahan struktural yang disepakati. Dalam wawancara bersama Fox News, Trump mengungkapkan bahwa China telah setuju untuk memesan 200 jet Boeing pembelian pesawat komersial buatan AS pertama oleh Beijing dalam hampir satu dekade terakhir.
Namun, angka tersebut berada di bawah ekspektasi para analis, yang memicu saham Boeing melemah lebih dari 4% setelah pernyataan tersebut disiarkan.
Ketidakpastian juga masih menyelimuti kelanjutan gencatan senjata dagang yang disepakati pada Oktober lalu, di mana Washington menangguhkan kenaikan tarif komersial terhadap barang-barang China, sementara Beijing melunasi komitmennya dengan melonggarkan pembatasan ekspor tanah jarang (rare earth).
Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan kepada Bloomberg TV bahwa otoritasnya belum memutuskan apakah akan memperpanjang masa gencatan senjata tersebut melampaui bulan November.
Sebagai langkah taktis, Gedung Putih mengumumkan kedua pemimpin sepakat membentuk "Dewan Perdagangan" (Board of Trade) guna mengelola hubungan bilateral tanpa harus membuka kembali negosiasi tarif yang rumit.
Simbolisme Teknologi Tingkat Tinggi
Kunjungan ini menunjukkan bahwa aspek citra publik memegang peranan yang sama pentingnya dengan hasil kesepakatan.
Saat Air Force One mendarat di Beijing, Elon Musk tampak turun dari pesawat mendahului sejumlah pejabat senior seperti Pete Hegseth, Marco Rubio, dan Jamieson Greer.
Kehadiran Musk serta CEO Nvidia, Jensen Huang, yang terus mendampingi Trump selama upacara penyambutan, menyimbolkan betapa krusialnya sektor kendaraan listrik, AI, dan semikonduktor dalam konstelasi hubungan AS-China saat ini.
Tesla diketahui sangat bergantung pada pabrik Gigafactory mereka di Shanghai, sementara Nvidia berada di episentrum kendali ekspor teknologi cip canggih AS.
Kehadiran Huang yang tidak tercantum dalam daftar delegasi awal memicu spekulasi bahwa akses cip menjadi agenda yang dibahas secara intensif.
Terkait hal tersebut, Trump menyatakan kepada Fox News bahwa "China akan menginvestasikan ratusan miliar dolar dengan orang-orang itu," tanpa merinci lebih lanjut.
Akses Pasar dan Stabilitas Global
Di sektor riil, Jamieson Greer mengonfirmasi adanya pemantapan kesepakatan terkait pembelian produk pertanian dan daging sapi AS oleh China.
Melalui laporan kantor berita Xinhua, Xi Jinping meyakinkan para pelaku bisnis Amerika bahwa "pintu China akan terbuka lebih lebar" dan menawarkan "prospek yang lebih luas" di pasar domestik mereka.
Xi juga menyerukan perluasan kerja sama di bidang layanan kesehatan, pariwisata, hingga penegakan hukum yang ia sebut sebagai hubungan yang "saling menguntungkan."
Di balik optimisme tersebut, sektor teknologi tetap menjadi jurang pemisah terbesar. Kebijakan kontrol ekspor AS terhadap semikonduktor tingkat lanjut tetap diberlakukan guna membatasi kapabilitas AI China.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan pentingnya AS untuk mempertahankan kepemimpinan di sektor AI sembari tetap merancang koridor keselamatan yang tinggi tanpa mematikan inovasi.
Selain isu domestik, Trump memanfaatkan pertemuan ini untuk mendorong keterlibatan China dalam meredakan konflik Iran demi stabilitas pasar minyak global.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Luar Negeri China merilis pernyataan resmi yang menyerukan "gencatan senjata yang komprehensif dan berkelanjutan" di Timur Tengah agar jalur pelayaran internasional dapat segera dipulihkan.
Sebagai penutup rangkaian diplomasi, Presiden Trump telah mengundang Presiden Xi Jinping untuk mengunjungi Gedung Putih pada 24 September mendatang.
Dialog lanjutan diharapkan dapat menelurkan terobosan besar yang belum berhasil dieksekusi dalam pertemuan di Beijing kali ini.










