Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Gunung api terbesar di dunia, Mauna Loa di Hawaii, meletus pada Senin (28/11/2022) waktu setempat, untuk pertama kalinya sejak 1984 silam. Lava cair terlihat mengalir dari puncak gunung, sementara kepulan asap menutupi area sekitar Mauna Loa.
Baca Juga: Prabowo Ajak Masyarakat Mampu untuk Saling Berbagi dan Tidak Serakah
Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyatakan erupsi di Taman Nasional Gunung Api Hawaii itu tak mengancam masyarakat, walau lava terlihat mengalir ke satu arah.
"Semua indikasi menunjukkan erupsi itu hanya akan berkutat di Zona Retakan Timur Laut," demikian pernyataan USGS yang dikutip TVRINews.com, Selasa (29/11).
Meski erupsi yang diperkirakan hanya berkutat di tempat yang sama, USGS tetap mengimbau warga agar waspada dan memantau informasi lebih lanjut.
"Berdasarkan kejadian-kejadian sebelumnya, periode awal erupsi Mauna Loa dapat sangat dinamis, dan lokasi aliran lava dapat berubah dengan cepat," demikian pernyataan USGS, seperti dilansir AFP.
Para ahli juga memperingatkan bahwa angin dapat membawa gas vulkanik dan Pele's Hair ke area bawah. Pele's Hair merupakan sebutan untuk butiran halus yang terbentuk ketika lava membeku dengan cepat di udara.
Sementara itu, Layanan Cuaca Nasional di Honolulu memperingatkan bahwa abu ini mungkin dapat berakumulasi di beberapa daerah di pulau itu.
Bahkan, Badan Penerbangan Federal AS juga memantau ketat erupsi gunung api itu dan akan merilis imbauan perjalanan udara ketika ukuran abu sudah dipastikan.
Kini, para ahli vulkanologi terus memantau pergerakan lava, termasuk seorang ahli bernama Robin George Andrews. Menurutnya, erupsi ini patut diwaspadai karena ini merupakan gejala perdana sejak 1984.
Baca Juga: Casemiro Antarkan Brazil ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2022
Mauna Loa sendiri sudah erupsi 33 kali sejak 1843. Terakhir kali, Mauna Loa erupsi pada 1984. Selama 22 hari, Mauna Loa terus memproduksi lava yang mencapai sekitar 7 kilometer ke Hilo.
Editor: Redaktur TVRINews
