TVRINews, Pyongyang
Presiden China berkunjung ke Korea Utara guna memperkuat kembali hubungan bilateral di tengah kedekatan Pyongyang dengan Rusia.
Presiden China, Xi Jinping, dijadwalkan tiba di Pyongyang pada Senin 8 Juni 2026 untuk memulai kunjungan kenegaraan selama dua hari. Ini merupakan lawatan pertama Xi ke Korea Utara dalam hampir tujuh tahun terakhir, sebuah langkah strategis yang dinilai para analis sebagai upaya Beijing untuk merevitalisasi hubungan dengan sekutu regional utamanya.
Hubungan kedua negara sempat mengalami kerenggangan akibat pembatasan perdagangan yang ketat selama pandemi Covid-19. Di sisi lain, Pyongyang terpantau semakin mempererat ikatan militer dan diplomatiknya dengan Moskow dalam beberapa waktu terakhir.
Kunjungan ini bertepatan menjelang peringatan ke-65 penandatanganan traktat persahabatan dan bantuan timbal balik antara China dan Korea Utara—satu-satunya perjanjian pertahanan formal yang masih dipertahankan Beijing dengan negara lain hingga saat ini.
Pergeseran Geopolitik Regional
Meskipun China dan Korea Utara memiliki sejarah panjang sejak Perang Korea pada awal 1950-an, dinamika baru memperlihatkan kedekatan yang lebih intens antara Pyongyang dan Rusia.
Korea Utara dilaporkan telah mengirimkan lebih dari 10.000 tentara untuk mendukung Rusia dalam konflik Ukraina, disusul dengan penandatanganan pakta pertahanan bersama antara Moskow dan Pyongyang pada tahun 2024.
"Dalam propaganda Korea Utara, terdapat pujian yang sangat luar biasa terhadap kedekatan dengan Rusia yang ditempa melalui pertempuran bersama. Sementara dengan China, hubungannya cenderung bersifat nostalgia," ujar John Delury, Senior Fellow di Asia Society.
Delury menambahkan bahwa langkah Beijing kali ini merupakan respons kalkulatif. "Mereka tidak ingin membiarkan kedekatan Korea Utara dengan Rusia melampaui ikatan dengan China secara berlebihan."
Meskipun Xi Jinping, Kim Jong-un, dan Presiden Rusia Vladimir Putin sempat menunjukkan solidaritas dalam parade militer besar di Beijing tahun lalu, ketiga negara tetap menavigasi kepentingan domestik masing-masing. Berbeda dengan Rusia dan Korea Utara, China tetap memprioritaskan stabilitas hubungan strategis dan ekonomi dengan Amerika Serikat (AS).
Diplomasi Segitiga dan Isu Nuklir
Kunjungan Xi ke Pyongyang ini dilakukan kurang dari sebulan setelah Presiden AS Donald Trump mengunjungi Beijing. Pertemuan tersebut diklaim China sebagai upaya menstabilkan kembali hubungan bilateral yang sempat tegang.
Trump kemudian menyatakan bahwa dirinya sempat mendiskusikan isu Korea Utara bersama Xi, memicu spekulasi adanya pesan khusus yang dititipkan untuk Kim Jong-un.
Kendati demikian, pendekatan Washington dan Beijing terhadap program nuklir Korea Utara kini mulai terpecah. Berbeda dengan sikap bersama di masa lalu, dokumen resmi pertemuan Xi dan Kim tahun lalu sama sekali tidak menyebutkan denuklirisasi Semenanjung Korea.
Klaim pembahasan nuklir ini juga mendapat bantahan keras dari pihak internal Korea Utara. Pada hari Minggu, Kim Yo-jong, adik perempuan Kim Jong-un yang memiliki pengaruh besar dalam rezim, menegaskan bahwa laporan mengenai pembahasan denuklirisasi antara Xi dan Trump adalah "palsu."
Sebelumnya, Korea Utara juga telah meresmikan fasilitas produksi materi nuklir baru, disertai seruan dari Kim Jong-un untuk melakukan ekspansi "eksponensial" terhadap persenjataan atom negara tersebut.
Keamanan dan Kendali Orbit
Bagi Beijing, prioritas utama saat ini diperkirakan bukan sekadar negosiasi nuklir, melainkan perlindungan kepentingan keamanan China di Asia Timur Laut, khususnya dalam membendung apa yang mereka pandang sebagai peningkatan militerisme Jepang. Isu ini dilaporkan menjadi perhatian serius bagi Xi dalam pembicaraan terpisah dengan Trump maupun Perdana Menteri Inggris Keir Starmer awal tahun ini.
Di samping itu, keputusan Xi untuk melakukan perjalanan internasional yang frekuensinya menurun pascapandemi menunjukkan betapa pentingnya posisi Pyongyang dalam peta politik luar negeri China.
William Yang, seorang analis senior dari Crisis Group, menjelaskan urgensi kunjungan ini dari sudut pandang keamanan regional.
"Mengingat gelombang uji coba rudal Korea Utara baru-baru ini, termasuk pengumuman keberhasilan uji coba rudal berpemandu kecerdasan buatan (AI), Xi tampaknya merasa perlu hadir langsung di Pyongyang untuk mencegah eskalasi ketegangan di Semenanjung Korea," papar Yang.
Tujuan akhir dari diplomasi ini, menurut rangkuman Delury, adalah memastikan stabilitas pengaruh regional. "Tujuan Xi adalah tidak membiarkan Korea Utara berputar terlalu jauh keluar dari orbit pengaruh China, yang selalu menjadi kekhawatiran utama Beijing."










