TVRINews – Katmandu
Seorang Pemandu Sherpa Tewas Terperosok di Everest Saat Arus Pendaki Meningkat di Tengah Konflik Global.
Dunia pendakian kembali berduka setelah seorang pemandu Sherpa asal Nepal dilaporkan tewas akibat terjatuh ke dalam celah es (crevasse) di Gunung Everest Jumat 8 Mei 2026.
Insiden ini menandai kematian ketiga di puncak tertinggi dunia tersebut dalam dua pekan terakhir, sekaligus menambah total korban jiwa pendaki di pegunungan Himalaya musim ini menjadi lima orang.
Terlepas dari ketegangan konflik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas perjalanan global, pesona Everest tampaknya tetap tidak surut bagi para petualang dunia.
Pejabat pariwisata Nepal mencatat adanya tren peningkatan jumlah pendaki yang berupaya menaklukkan puncak setinggi 8.849 meter tersebut.
"Meskipun konflik di Timur Tengah telah memengaruhi sektor perjalanan, pariwisata, dan pendakian, Everest terus menarik minat pendaki dalam jumlah yang lebih besar," ujar Himal Gautam, pejabat Departemen Pariwisata Nepal, sebagaimana dikutip dari AP News Selasa 12 Mei 2026.
Risiko di Ketinggian Ekstrem
Korban terbaru diidentifikasi sebagai Phura Gyaljen Sherpa (21). Ia dinyatakan meninggal dunia setelah terpeleset dan jatuh ke dalam celah es di sekitar Camp III, yang terletak pada ketinggian sekitar 7.200 meter.
Kematian Phura menyusul dua insiden tragis sebelumnya di Everest musim ini. Bijay Ghimire Bishwakarma (35) mengembuskan napas terakhir saat menjalani proses aklimatisasi di Khumbu Icefall, sementara Lakpa Dendi Sherpa (51) meninggal dunia dalam perjalanan menuju base camp pada awal bulan ini.
Selain di Everest, pegunungan tetangga juga mencatatkan korban jiwa. Pekan lalu, pendaki asal Amerika Serikat, Johannesen Shelley (53), tewas di Gunung Makalu, puncak tertinggi kelima di dunia. Sementara itu, David Ronbinek dari Republik Ceko dilaporkan gugur di Makalu II.
Dominasi Ekonomi dan Tantangan Alam
Bagi Nepal, pegunungan Himalaya bukan sekadar bentang alam, melainkan urat nadi ekonomi yang krusial.
Di tengah kondisi negara yang sangat bergantung pada bantuan internasional, remitansi, dan pariwisata, sektor pendakian menjadi penyedia lapangan kerja utama bagi penduduk lokal.
Data pemerintah menunjukkan otoritas telah mengeluarkan 492 izin pendakian musim ini (April-Mei) dengan biaya masing-masing sebesar $15.000 (Rp243.000.000}. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2023 yang mencatatkan 478 izin.
Meskipun animo pendaki sangat tinggi, tantangan alam tetap menjadi rintangan yang tak terduga.
Pada April lalu, runtuhnya blok es raksasa sempat menunda pembukaan rute menuju puncak selama hampir dua pekan, yang menyebabkan ratusan pendaki tertahan di base camp.
Saat ini, tim dari Expedition Operators’ Association of Nepal tengah bekerja keras untuk memasang tali pengaman menuju puncak. Jika kondisi cuaca memungkinkan, arus pendakian utama diharapkan dapat dimulai pada akhir pekan ini.










