TVRINews – Abu Dhabi
Riyadh dan Abu Dhabi menempuh arah strategis yang berbeda dalam menghadapi arsitektur keamanan Timur Tengah pasca-konflik Iran.
Lanskap geopolitik Timur Tengah dilaporkan tengah mengalami pergeseran mendasar seiring dengan munculnya perbedaan visi strategis yang kian nyata antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi.
Keretakan hubungan kedua kekuatan utama Teluk ini dipicu oleh pendekatan yang bertolak belakang dalam merespons ancaman regional serta tata kelola keamanan pasca-perang dengan Iran.
Sejumlah laporan mengindikasikan bahwa UEA telah mengambil keputusan besar untuk keluar dari keanggotaan Organisasi Negara-Negara Pengeskpor Minyak (OPEC).
Langkah otonom ini berjalan selaras dengan penguatan kemitraan militer yang masif antara Abu Dhabi dan Tel Aviv.
UEA dikabarkan telah menerima pasokan sistem pertahanan udara Iron Dome dari Israel, yang mencakup rudal pencegat sekaligus personel operasionalnya di lapangan.
Berdasarkan laporan Turkey To Day Jumat 15 Mei 2026, Para analis menilai dinamika ini menandai fase baru di mana UEA secara aktif merancang masa depannya di era "pasca-Amerika" di Timur Tengah, sekaligus mempertegas pemisahan jalur politik dari Arab Saudi yang selama ini menjadi pemimpin tradisional blok Arab Teluk.
Polarisasi Arsitektur Keamanan Baru
Perpecahan kedua negara mulai terekam jelas sejak penandatanganan Kesepakatan Abraham (Abraham Accords) pada tahun 2020.
Di saat UEA memilih melakukan normalisasi penuh dan mengintegrasikan diri ke dalam arsitektur keamanan bersama Israel untuk mengimbangi Iran, Arab Saudi tetap mempertahankan posisi pragmatis yang lebih berhati-hati.
Riyadh secara konsisten mengondisikan normalisasi hubungan dengan Israel harus berjalan beriringan dengan jaminan pembentukan negara Palestina yang berdaulat.
Sikap kontras ini kian meruncing selama eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada periode 2024 hingga 2026.
Berdasarkan catatan operasional, UEA secara penuh mengintegrasikan sistem pertahanan udara dan jangkauan radarnya ke dalam jaringan komando regional yang dipimpin AS untuk melindungi sasaran militer. Sebaliknya, Arab Saudi memilih keterlibatan yang bersifat situasional demi menghindari risiko eskalasi yang dapat mengancam keamanan domestiknya.
Langkah hati-hati Riyadh juga dipengaruhi oleh penentangan terhadap kebijakan militer Israel di Gaza dan Lebanon yang menimbulkan korban jiwa sipil dalam skala besar.
Benturan Kepentingan di Wilayah Konflik
Selain isu pertahanan udara, perbedaan mendasar antara kedua negara juga tercermin dari peran mereka dalam berbagai krisis regional:
• Yaman: Arab Saudi secara konsisten mendukung pemerintah pusat yang diakui secara internasional demi menjaga integritas wilayah negara tersebut. Sementara itu, UEA memberikan dukungan kepada Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang memperjuangkan kemerdekaan Yaman Selatan.
• Sudan: Riyadh bersama Washington bertindak sebagai mediator dalam Perundingan Jeddah 2023 untuk mendukung Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) demi stabilitas kawasan Laut Merah. Di sisi lain, UEA dilaporkan memberikan dukungan di balik layar kepada pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
• Somalia: Arab Saudi membela kedaulatan penuh Somalia terhadap wilayah Somaliland. Namun, UEA memperkuat otonomisasi wilayah tersebut melalui hubungan ekonomi yang erat, yang kemudian diikuti oleh langkah Israel yang secara resmi mengakui kemerdekaan Somaliland pada tahun 2025.
Perdebatan Diplomasi Publik
Perbedaan pandangan ini akhirnya memicu perdebatan terbuka di ruang publik melalui pernyataan para tokoh yang dekat dengan lingkaran kekuasaan masing-masing.
Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, sempat melontarkan kritik dengan menyebut respons kolektif negara-negara Teluk terhadap serangan balasan Iran sebagai "posisi paling lemah dalam sejarah."
Pernyataan tersebut kemudian direspons secara tidak langsung oleh Pangeran Turki Al-Faisal, mantan Kepala Intelijen dan Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat.
Dalam sebuah artikel opini, Pangeran Turki memuji kebijakan menahan diri yang diterapkan oleh Riyadh, sekaligus mengapresiasi keteguhan negara Teluk yang menolak diseret oleh Israel ke dalam konfrontasi militer terbuka dengan Iran.
Fragmentasi Blok Regional
Konflik dengan Iran telah mempercepat terbentuknya dua poros kekuatan baru di Timur Tengah yang memiliki pandangan berbeda mengenai ancaman masa depan.
Bagi mayoritas negara Teluk, ambisi Israel untuk menjadi kekuatan dominan di kawasan dianggap memberikan tingkat ancaman yang sama besarnya dengan Teheran, terutama setelah insiden serangan Israel di Qatar di tengah berlangsungnya negosiasi diplomasi.
Dalam menghadapi realitas baru ini, Timur Tengah kini terfragmentasi ke dalam dua kubu utama:
1. Poros Israel-UEA: Blok yang menempatkan Israel sebagai mitra keamanan strategis, dengan potensi dukungan dari Bahrain dan Kuwait.
2. Poros Arab Saudi-Pakistan: Blok pertahanan yang didukung oleh negara-negara dengan kesamaan visi stabilitas kawasan seperti Turkiye, Mesir, Qatar, dan Oman.
Polarisasi ini mencerminkan pembagian mendalam antara kelompok negara yang dinilai mendukung fragmentasi politik di satu sisi, dan kelompok negara yang memprioritaskan penguatan otoritas pusat serta stabilitas jangka panjang di sisi lain.










