TVRINews – Kyiv
Moskow Hantam Delapan Wilayah Ukraina, Kyiv Respons Lewat Pengembangan Bom Pintar Terbaru
Eskalasi serangan jarak jauh antara Rusia dan Ukraina memasuki babak baru yang kian intensif.
Pemerintah Ukraina melaporkan bahwa pasukan Rusia meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal besar-besaran yang menyasar delapan wilayah di negara tersebut, menyebabkan puluhan warga sipil terluka dan merusak infrastruktur strategis.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengonfirmasi bahwa Moskow mengerahkan sedikitnya 524 drone berpeledak serta 22 rudal balistik dan penjelajah dalam serangan Senin 18 Mei 2026 malam.
Wilayah Dnipro dan kawasan tengah Ukraina menjadi titik yang menerima dampak kerusakan paling parah.
Menurut otoritas setempat, serangan tersebut melukai lebih dari dua puluh warga sipil, termasuk tiga anak-anak.
Gencatan senjata singkat yang sempat diupayakan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada pertengahan Mei ini tampaknya tidak memberikan dampak signifikan di lapangan.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda konkret mengenai tercapainya kesepakatan damai, meskipun diplomasi Washington terus berjalan.
Pergeseran Strategi dan Kemandirian Militer Kyiv
Menanggapi tekanan udara dari Moskow, Ukraina kini secara konsisten menunjukkan peningkatan kapabilitas serangan jarak jauhnya sendiri.
Industri pertahanan domestik Kyiv dilaporkan berhasil mengembangkan bom pintar (glide bomb) pertama mereka untuk menandingi taktik udara Rusia.
Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov, menyatakan bahwa senjata baru ini membawa hulu ledak seberat 250 kilogram dan dirancang khusus untuk menghancurkan benteng pertahanan serta pusat komando Rusia di belakang garis depan.
"Kapabilitas jarak jauh kami secara signifikan mengubah situasi dan secara lebih luas, mengubah persepsi dunia terhadap perang ini," ujar Presiden Zelenskyy melalui pernyataan resminya.
Zelenskyy menambahkan bahwa para menteri dan mitra internasional kini mulai melihat pergeseran peta konflik, terutama terkait kemampuan Ukraina dalam menjangkau target-target militer yang berada jauh di dalam wilayah kedaulatan Rusia.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan bahwa operasi udara mereka berhasil mengenai seluruh target yang ditentukan.
Pihak Moskow mengklaim serangan tersebut menyasar pabrik senjata, fasilitas energi, serta infrastruktur pelabuhan yang digunakan oleh angkatan bersenjata Ukraina.
Rusia juga melaporkan telah menetralisir lebih dari 1.000 drone Ukraina dalam kurun waktu 24 jam sebelumnya.
Isu Diplomatik dan Insiden Laut Hitam
Eskalasi ini terjadi menjelang kunjungan penting Presiden Rusia, Vladimir Putin, ke Beijing untuk bertemu dengan Pemimpin China, Xi Jinping. Di tengah upaya isolasi ekonomi oleh negara-negara Barat, China kini telah berkembang menjadi mitra dagang utama bagi Rusia.
Namun, situasi diplomatik sempat diwarnai ketegangan baru setelah Angkatan Laut Ukraina melaporkan bahwa sebuah drone Rusia menghantam kapal kargo milik perusahaan China di Laut Hitam, dekat Odesa.
Kapal bernama KSL Deyang yang berbendera Kepulauan Marshall tersebut dilaporkan berawak warga negara China. Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban atau total kerugian materi akibat insiden tersebut.
Dinamika Domestik Politik Ukraina
Sementara itu dari dalam negeri Ukraina, isu penegakan hukum terhadap mantan pejabat tinggi negara turut menyita perhatian publik.
Pengadilan Tinggi Anti-Korupsi Ukraina mengumumkan bahwa uang jaminan untuk mantan Kepala Staf Kepresidenan, Andriy Yermak, telah dibayarkan penuh sebesar 140 juta hryvnia (sekitar Rp51 miliar).
Yermak, yang mengundurkan diri pada November lalu, saat ini berstatus sebagai terduga dalam penyelidikan kasus korupsi skala besar yang dipantau ketat oleh lembaga pengawas anti-korupsi Ukraina. Proses hukum ini menegaskan dinamika internal Ukraina yang tetap berjalan di tengah situasi konflik yang masih berkecamuk.










