TVRINews – Male
Tragedi Devana Kandu Menjadi Insiden Penyelaman Paling Mematikan dalam Sejarah Maladewa
Tim penyelamat berhasil menemukan jasad empat penyelam asal Italia yang hilang di dalam jaringan gua bawah laut di atol Maladewa.
Penemuan ini mengakhiri pencarian intensif selama empat hari yang sempat diwarnai insiden fatal yang menewaskan seorang personel militer setempat.
Pemerintah negara kepulauan Samudra Hindia tersebut mengonfirmasi bahwa posisi keempat korban terdeteksi di bagian terdalam gua pada Senin 18 Mei 2026 waktu setempat.
Penemuan dilakukan oleh tiga pakar selam asal Finlandia yang dibantu oleh kepolisian dan militer Maladewa.
"Seperti yang diperkirakan sebelumnya, keempat jasad ditemukan di dalam gua. Tidak hanya di dalam, tetapi jauh di bagian dalam segmen ketiga gua, yang merupakan area terbesar," ujar Juru Bicara Pemerintah Maladewa, Ahmed Shaam, dalam rekaman suara resmi yang dikirimkan kepada media, diantaranya The Guardian.
Shaam menambahkan bahwa keempat korban ditemukan dalam posisi yang relatif berdekatan. "Rencananya, tim akan mencoba mengevakuasi dua jasad besok, dan kemungkinan dua jasad sisanya pada hari berikutnya," lanjutnya.
Sebelumnya, jasad warga Italia kelima yang diketahui merupakan seorang instruktur selam telah ditemukan terlebih dahulu di luar area gua.
Berdasarkan keterangan Kementerian Luar Negeri Italia, kelima penyelam tersebut sedang mengeksplorasi gua di kedalaman sekitar 50 meter di Atol Vaavu pada Kamis lalu. Sebagai informasi, batas aman penyelaman rekreasi di Maladewa diatur ketat maksimal pada kedalaman 30 meter.
Pelanggaran Izin dan Risiko Kedalaman
Juru Bicara Kepresidenan Maladewa, Mohamed Hussain Shareef, menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya telah memberikan izin resmi kepada kelompok tersebut untuk melakukan penelitian terumbu karang lunak (soft corals) di situs Devana Kandu. Namun, pihak otoritas tidak mengetahui adanya aktivitas penyelaman gua.
"Yang tidak kami ketahui adalah bahwa mereka melakukan cave diving (penyelaman gua)," kata Shareef.
"Sebab, seperti yang dipahami oleh para penyelam, itu adalah disiplin yang sangat berbeda dengan rangkaian tantangan dan risikonya sendiri. Terlebih pada kedalaman tersebut, ada banyak hal yang bisa berjalan di luar kendali."
Shareef menyatakan bahwa pemerintah telah membekukan operasional kapal yang digunakan oleh para penyelam. Regulasi setempat mewajibkan setiap ekspedisi penyelaman mengantongi izin sekolah selam resmi, yang sayangnya tidak dimiliki oleh kelompok tersebut.
Di sisi lain, Abdul Muhsin Moosa selaku operator kapal MV Duke of York, menegaskan bahwa kapalnya memiliki izin resmi untuk kedalaman rekreasi hingga 30 meter.
Ia juga mengaku telah memberikan pengarahan standar kepada para penyelam saat tiba di kapal mengenai batasan hukum penyelaman di Maladewa.
Misi Penyelamatan yang Berbahaya
Tragedi ini tercatat sebagai insiden tunggal paling mematikan dalam sejarah penyelaman di Maladewa. Upaya evakuasi sejauh ini terus terkendala oleh faktor cuaca buruk di sekitar lokasi.
Sebelum tim ahli dari Finlandia tiba pada hari Minggu, operasi pencarian sempat dihentikan sementara.
Keputusan tersebut diambil setelah Mohamed Mahudhee, seorang anggota Pasukan Pertahanan Nasional Maladewa (MNDF), meninggal dunia akibat penyakit dekompresi bawah laut setelah dilarikan ke rumah sakit di ibu kota Male pada Sabtu 16 Mei 2026 pekan lalu.
Hingga saat ini, tim penyelamat awal telah berhasil mengidentifikasi dan menandai titik masuk ke sistem gua tempat para korban terjebak.
Otoritas berwenang menegaskan bahwa penyelidikan menyeluruh mengenai penyebab pasti kematian para penyelam masih terus berjalan.










