TVRINews – Tehguh, Yordania
Ketegangan di Teluk memuncak setelah rudal balistik Iran menghantam instalasi militer, sementara Kuwait dan Bahrain mengaktifkan sistem pertahanan udara.
Konflik terbuka di Timur Tengah memasuki fase berbahaya. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan rudal balistik skala besar yang menargetkan Pangkalan Udara Pangeran Hassan dan sebuah pangkalan Marinir Amerika Serikat di Yordania, sebagai aksi balasan atas rentetan serangan udara Washington yang sebelumnya menelan korban jiwa di kalangan warga sipil Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukannya telah sukses merampungkan gelombang serangan presisi terhadap sejumlah target strategis Iran pada selasa1 September 2026.
Operasi tersebut dilancarkan sebagai respons atas upaya serangan Iran yang menyasar jalur pelayaran komersial internasional serta personel militer AS di kawasan tersebut.
Dampak dari konfrontasi ini langsung dirasakan di berbagai wilayah. Media pemerintah Iran melaporkan serangkaian ledakan masif di sejumlah titik strategis selatan, termasuk Asaluyeh, Jiroft, Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Konarak, Chabahar, Jask, Sirik, dan Lavan.
Tragedi kemanusiaan tak terhindarkan di Pulau Lavan. Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sebuah hantaman rudal mengenai sebuah rumah penduduk yang tengah menggelar perayaan pernikahan. Insiden tersebut mengakibatkan sedikitnya empat orang tewas, termasuk seorang anak-anak, serta melukai lebih dari 50 orang lainnya.
Di tengah situasi yang kian tak menentu, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan keras dalam kemunculan pesan pertamanya sejak pecahnya kembali konfrontasi bersenjata antara Washington dan Teheran.
"Angkatan bersenjata Iran telah menyiapkan pelajaran yang tak terlupakan bagi Washington," tegas Mojtaba Khamenei, merespons eskalasi militer yang terjadi.
Getaran konflik turut dirasakan oleh negara-negara tetangga di kawasan Teluk. Pemerintah Kuwait mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya tengah aktif merespons ancaman serangan pesawat nirawak atau drone yang masuk ke wilayah kedaulatan mereka.
Langkah serupa diambil oleh Bahrain, di mana sistem pertahanan udara nasional dikonfirmasi berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah drone asal Iran di langit Bahrain.
Para analis pertahanan internasional menilai situasi saat ini berada di titik nadir yang sangat rentan. Keterlibatan teritori negara-negara sekutu di luar medan utama dikhawatirkan dapat memperluas spektrum krisis menjadi konflik regional yang lebih luas, menuntut komunitas internasional untuk segera mengambil langkah diplomasi darurat guna meredam ketegangan.









