TVRINews – Kathmandu
Tim SAR berpacu dengan waktu menyelamatkan korban terjebak di tengah reruntuhan longsor Nepal dan Tibet.
Operasi penyelamatan skala besar terus digeber di kawasan perbatasan Nepal dan Tiongkok menyusul bencana banjir bandang dan longsor paling mematikan dalam sejarah wilayah Himalaya baru-baru ini.
Berdasarkan pembaruan data resmi dari badan penanggulangan bencana setempat Rabu 2 September 2026, korban tewas akibat terjangan material es dan lumpur kini telah melewati angka 1.000 jiwa, sementara ribuan orang lainnya masih belum ditemukan.
Bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh keruntuhan glasial ini menghancurkan infrastruktur vital, memutus akses jalan darat, serta mengisolasi sejumlah komunitas terpencil di lembah-lembah pegunungan.
Di Kathmandu, aparat kepolisian terpaksa memakamkan puluhan jenazah tak dikenal secara massal di dalam parit-parit khusus dengan pengamanan ketat, lengkap pengambilan sampel DNA dan pencatatan ciri-ciri fisik guna memudahkan proses identifikasi oleh pihak keluarga di kemudian hari.
Fokus tim penyelamat saat ini diarahkan pada upaya evakuasi ratusan pekerja yang diyakini terjebak di dalam terowongan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di sepanjang wilayah terdampak.
Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet, juru bicara Angkatan Darat Nepal, menyampaikan bahwa pihaknya bersama tim ahli dari mancanegara terus berpacu dengan waktu menyisir celah-celah bebatuan dan timbunan lumpur tebal.
"Upaya di lapangan menghadapi tantangan berat akibat kondisi medan yang tidak stabil serta jalur logistik yang terputus total," ujar Basnet menggambarkan situasi sulit di zona bencana Kutip AP News.
Kendala serupa juga dihadapi otoritas di wilayah perbatasan Tiongkok, khususnya di sekitar pos lintas batas Pelabuhan Gyirong yang porak-poranda disapu tanah longsor. Menanggapi situasi darurat ini, pemerintah Tiongkok telah mengirimkan gelombang kedua bantuan kemanusiaan yang mencakup peralatan purifikasi air, drone pemantau, serta tim forensik khusus untuk membantu proses identifikasi jenazah korban.
Bimal Sharma, seorang pilot helikopter yang memimpin misi evakuasi udara, mengungkapkan keterkejutannya melihat perubahan lanskap geografis yang sangat drastis di kota perbatasan Timure.
"Rasanya seperti terbang di atas lanskap yang sepenuhnya berbeda. Saya dapat melihat kepedihan di mata mereka, ini sangat memilukan," tutur Sharma menceritakan detik-detik penyelamatan para penyintas.
Sementara itu, komunitas ilmiah internasional mulai memetakan akar permasalahan dari bencana ekologis ini. Analisis citra satelit menunjukkan bahwa insiden tersebut bermula dari keruntuhan batuan dasar di bawah gunung es Himalaya, yang memicu guncangan seismik setara magnitudo 5,2 sebelum akhirnya melepas gelombang air bah secara masif ke wilayah hilir.
Menanggapi krisis iklim yang semakin nyata di kawasan atap dunia ini, Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyerukan desakan kuat kepada komunitas global agar lebih serius memitigasi dampak perubahan iklim yang kian mengancam keselamatan kawasan regional.
"Insiden ini mengindikasikan bahwa risiko yang kita hadapi di kawasan Himalaya semakin meningkat seiring perubahan iklim. Oleh karena itu, wilayah ini harus waspada, dan sudah saatnya kita menyuarakan persoalan bencana perubahan iklim ini secara tegas di hadapan masyarakat internasional," tulis Shah melalui pernyataan resminya.
Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian korban melibatkan pengerahan helikopter militer, anjing pelacak, serta alat berat guna membuka akses jalur utama yang tertimbun material longsor.









