TVRINews – Kathmandu
Tim penyelamat gunakan peledak dan pompa udara untuk menembus terowongan lumpur demi mencari ratusan pekerja yang terjebak banjir bandang.
Operasi penyelamatan skala besar terus dilakukan di kawasan aliran Sungai Trishuli, Nepal. Tim gabungan internasional berpacu dengan waktu guna menemukan lebih dari 600 pekerja yang diyakini masih terjebak di dalam labirin terowongan bawah tanah berlumpur, menyusul bencana banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal-Tibet.
Hingga Senin 31 Agustus 2026, otoritas penanggulangan bencana setempat melaporkan bahwa korban jiwa akibat tragedi ini telah melonjak hingga 939 orang. Sementara itu, jumlah warga yang dinyatakan hilang direvisi menjadi 3.925 orang, dengan sekitar 592 di antaranya merupakan warga negara asing.
Diperkirakan, satu dari setiap tujuh korban hilang adalah pekerja yang mengabdi di berbagai proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di kawasan pegunungan tersebut.
Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyatakan bahwa pemerintah telah mengintensifkan upaya evakuasi. Sejauh ini, sekitar 11.379 jiwa berhasil diselamatkan dari berbagai titik bencana, termasuk 279 orang yang dievakuasi langsung dari kompleks PLTA.
Operasi pencarian ini dipimpin oleh personel militer gabungan Nepal dan Tiongkok, serta didukung oleh tenaga ahli dari India, Korea Selatan, dan Australia.
Kendati demikian, kecemasan mendalam terus merundung para keluarga korban. Mereka menilai proses evakuasi berjalan terlalu lambat di saat jendela waktu keselamatan semakin menyusut.
"Saya berharap kami bisa menemukannya. Saya berharap dia bisa pulang ke rumah," ungkap Anushila Bhandari, istri dari Aurus Bhandari, seorang insinyur berusia 33 tahun yang hilang di lokasi proyek, kepada BBC Nepali selasa 1 September 2026.
Keluarga korban lainnya, Jiban Khadka, menegaskan bahwa setiap detik sangat berharga bagi keselamatan para penyintas di dalam terowongan. "Semakin lama waktu berjalan, semakin tipis pula harapan kami. Operasi ini harus bergerak jauh lebih cepat," ujarnya dengan nada cemas kepada harian lokal Kantipur.
Di sisi lain, tantangan teknis di lapangan tergolong sangat ekstrim. Arnold Dix, seorang ahli rekayasa terowongan asal Australia yang memantau operasi secara jarak jauh, menggambarkan kondisi medan pascabanjir bagaikan lanskap permukaan bulan.
"Tanda-tanda fisik lokasi praktis lenyap. Ada batu-batu sebesar rumah yang berserakan saya belum pernah melihat hal seperti ini seumur hidup saya. Ini adalah operasi yang luar biasa luar biasa sulit," jelas Dix kepada program World at One di BBC Radio 4. Ia menambahkan, tim harus menggunakan metode peledakan batu besar demi membuka akses menuju stasiun daya bawah tanah.
Sementara itu, situasi pilu juga terlihat di Distrik Chitwan, wilayah hilir yang berjarak cukup jauh dari titik awal bencana. Aliran sungai Himalaya membawa sekitar 300 jenazah ke tepi daratan, memaksa pihak berwenang melakukan pemakaman darurat sementara.
Petugas medis dan relawan tampak mengenakan alat pelindung diri lengkap untuk mengambil sampel DNA guna keperluan identifikasi jenazah di masa mendatang.
Kepala Distrik Chitwan, Ganesh Aryaal, menjelaskan bahwa keterbatasan fasilitas pendingin mayat mengharuskan pihaknya mengambil langkah pemakaman sementara tersebut. Pihak keluarga nantinya tetap diizinkan mengambil jenazah kerabat mereka setelah proses pencocokan DNA rampung.
Di tingkat regional, dampak bencana ini turut memicu pengetatan informasi. Di wilayah Tibet, Tiongkok, media pemerintah melaporkan korban tewas mencapai 16 orang dengan 546 orang hilang, di tengah ketatnya penyensoran rekaman banjir. Otoritas setempat bahkan menjatuhkan sanksi administratif bagi pihak-pihak yang menyebarkan spekulasi terkait data korban. Langkah serupa juga diambil oleh pemerintah Nepal yang menertibkan konten digital bermuatan informasi keliru mengenai bencana ini.









