TVRINews – Seoul
Pyongyang kembali menebar eskalasi militer di Semenanjung Korea menyusul rencana latihan gabungan Washington dan Seoul.
Ketegangan di kawasan Semenanjung Korea kembali memuncak setelah Korea Utara meluncurkan uji coba rudal balistik keduanya dalam kurun waktu kurang dari sepekan. Langkah provokatif ini diyakini sebagai bentuk protes keras terhadap agenda latihan militer gabungan berskala besar antara Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Berdasarkan keterangan resmi Kepala Gabungan Staf Militer Korea Selatan, peluncuran tersebut terdeteksi dari kawasan pesisir timur Wonsan rabu 12 Agustus 2026 sekitar pukul 06.00 waktu setempat. Proyektil yang diidentifikasi sebagai rudal balistik itu melesat sejauh lebih dari 700 kilometer sebelum akhirnya jatuh ke perairan.
Otoritas pertahanan Jepang turut mengonfirmasi peluncuran ini. Kementerian Pertahanan Jepang menyatakan bahwa rudal tersebut mendarat di perairan yang berada di luar zona ekonomi eksklusif negara tersebut, tepatnya di antara Semenanjung Korea dan Jepang.
Rangkaian peluncuran beruntun ini memperpanjang catatan eskalasi uji coba senjata oleh Pyongyang, di tengah kebuntuan diplomatik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dengan Washington dan Seoul. Sejumlah pengamat menilai bahwa pemerintah Korea Utara kerap memanfaatkan agenda latihan militer sekutu sebagai dalih untuk mempercepat pengembangan teknologi persenjataan mereka.
Menanggapi situasi tersebut, Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan secara tegas mengecam peluncuran rudal balistik tersebut dan mendesak Pyongyang untuk segera menghentikan tindakan eskalatif yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.
"Militer kami tetap siaga penuh untuk menghalau segala bentuk provokasi dari Pyongyang melalui kerja sama erat dengan Amerika Serikat," demikian pernyataan resmi militer Korea Selatan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, menyampaikan protes keras kepada pihak Korea Utara melalui saluran Kedutaan Besar di Beijing. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan persoalan serius yang berdampak langsung terhadap keselamatan warga Jepang.
Eskalasi terbaru ini terjadi hanya berselang dua hari setelah Seoul dan Washington mengumumkan rencana pelaksanaan latihan militer tahunan berskala besar, Ulchi Freedom Shield, yang dijadwalkan mulai bergulir pada 17 Agustus mendatang.
Latihan gabungan ini dirancang untuk memperkuat kesiapan pertahanan bersama dalam menghadapi potensi ancaman dari Korea Utara.
Secara historis, Pyongyang selalu merespons latihan militer gabungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat dengan unjuk kekuatan serta retorika yang tajam. Di sisi lain, Washington dan Seoul secara konsisten menegaskan bahwa seluruh rangkaian latihan militer tersebut murni bersifat defensif.
Dalam dokumen penilaian tahun sebelumnya, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menuding bahwa latihan gabungan tersebut mencerminkan niat terselubung untuk memicu konflik bersenjata, yang kemudian direspons oleh negaranya melalui langkah-langkah balasan yang proaktif.
Aksi peluncuran rudal terbaru ini juga mengikuti insiden serupa pada 6 Agustus lalu, di mana otoritas keamanan Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang mendeteksi peluncuran rudal balistik jarak pendek oleh Pyongyang. Insiden tersebut menandai aktivitas pengujian senjata pertama sejak akhir Juni.
Tindakan Korea Utara ini secara nyata melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang melarang negara tersebut mengembangkan maupun meluncurkan teknologi rudal balistik.
Sejak kegagalan diplomasi tingkat tinggi antara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2019, Pyongyang secara konsisten memperluas arsenal nuklir dan rudal balistiknya.
Para analis memperkirakan bahwa penguatan kapasitas militer ini bertujuan untuk menekan komunitas internasional agar melonggarkan sanksi ekonomi global yang selama ini diterapkan terhadap Korea Utara.
Dalam dinamika geopolitik kawasan terkini, rezim Kim Jong Un juga terlihat memperluas aliansi strategis internasional, termasuk mempererat kerja sama pertahanan dengan Rusia serta memulihkan hubungan diplomatik erat dengan China sebagai mitra tradisional utama mereka.










