TVRINews – Washington DC
Pembicaraan damai dan pembukaan Selat Hormuz menghadapi jalan buntu setelah Washington melontarkan tuntutan finansial baru yang berpotensi memicu eskalasi diplomatik.
Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah dan membuka kembali jalur perdagangan minyak vital di Selat Hormuz menemui hambatan serius. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menuntut agar pemerintah Iran membayar kompensasi finansial atas kematian ribuan tentara Amerika Serikat serta warga sipil Iran dalam beberapa dekade terakhir.
Tuntutan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi di platform Truth Social, Selasa 11 Agustus 2026, Kebijakan ini muncul sebagai respons atas klaim ganti rugi yang sebelumnya diajukan oleh para negosiator Iran terhadap Amerika Serikat, menyusul perang lima bulan yang telah menghancurkan infrastruktur militer serta perekonomian negara tersebut.
"Sekarang saya juga menuntut kompensasi dari Iran, atas semua orang yang telah mereka bunuh dan lukai parah dengan bom pinggir jalan serta berbagai konflik, yang dipimpin oleh Jenderal Soleimani, termasuk keluarga korban USS Cole, dan ribuan lainnya yang tewas dalam pertempuran," tulis Trump dalam unggahannya.
Ia juga menambahkan bahwa kompensasi serupa harus diberikan kepada keluarga ratusan ribu pengunjuk rasa yang tewas dalam lima dekade terakhir, termasuk 52.000 korban jiwa yang jatuh dalam konflik lima bulan terakhir.
Analis internasional menilai tuntutan finansial ini merupakan langkah yang hampir mustahil dipenuhi oleh para pemimpin di Teheran. Kebijakan tersebut berisiko menggagalkan perundingan damai yang bertujuan memulihkan arus pasokan energi global.
Sebelum operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel di Iran pada akhir Februari lalu, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melintasi Selat Hormuz.
Situasi politik semakin rumit bagi Gedung Putih setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka menolak peta jalan 15 poin yang didukung oleh Washington untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza.
Netanyahu menegaskan bahwa kelompok Hamas harus melucuti senjatanya secara penuh sebelum Israel mempertimbangkan penarikan pasukan, sebuah sikap yang bertentangan dengan usulan penarikan bertahap dari Board of Peace.
Meskipun menghadapi penolakan dari sekutu dekatnya di kawasan tersebut, Presiden Trump menegaskan bahwa hubungan diplomatik antara kedua negara tetap berada dalam kondisi yang baik.
Di tengah tekanan domestik menjelang pemilihan umum paruh waktu pada November mendatang, di mana isu inflasi dan harga minyak menjadi perhatian utama pemilih, Trump justru memperluas cakupan tuntutannya.
Sekitar satu jam setelah pernyataan pertamanya, Trump kembali menegaskan bahwa Teheran harus bertanggung jawab penuh atas kerugian material dan korban jiwa yang terjadi di kawasan regional.
"Selain itu, terkait perundingan Iran, Iran harus bertanggung jawab atas kerusakan dan kematian yang ditimbulkan pada rakyat Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza!" tulisnya menegaskan.










