TVRINews - Bogota
Krisis kemanusiaan meluas seiring pencarian intensif terhadap ribuan warga yang belum ditemukan.
Jumlah korban jiwa akibat gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah barat Kolombia terus merangkak naik secara signifikan. Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa hingga selasa 11 Agustus 2026, sedikitnya 240 orang tewas dalam bencana terburuk abad ini, sementara ribuan warga lainnya masih dinyatakan hilang dan ribuan bangunan luluh lantak.
Di Kota Cali, salah satu kawasan terdampak paling parah, petugas pemadam kebakaran bersama warga bahu-membahu menyisir puing-puing beton. Sebuah keajaiban sempat terekam ketika tim evakuasi berhasil menarik keluar seorang pria berusia 35 tahun dan seorang wanita bernama Diana Troncoso dari reruntuhan setelah belasan jam terjepit.

(Petugas pemadam kebakaran di Cali telah bekerja keras menarik para penyintas keluar dari reruntuhan. (Foto: Reuters))
"Kami menemukan kehidupan di balik reruntuhan. Setiap detik sangat berarti," demikian pernyataan resmi dinas pemadam kebakaran setempat melalui rekaman video penyelamatan.
Meski demikian, suasana duka menyelimuti berbagai sudut kota. Kantong-kantong jenazah tampak tergeletak di jalanan terbuka sementara fasilitas kesehatan kewalahan menerima gelombang pasien luka-luka.
Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella, yang baru menduduki kursi kepemimpinan, langsung mengerahkan ribuan personel militer dan menteri kabinet ke titik-titik krisis guna mengantisipasi kekacauan serta mempercepat distribusi bantuan logistik.
Kondisi dramatis serupa turut melanda Kota Pereira. Wali Kota Pereira, Mauricio Salazar, tak kuasa menahan air mata saat melaporkan eskalasi kerusakan infrastruktur serta lonjakan korban jiwa di wilayahnya yang membebani kapasitas tenaga medis darurat.

Respons cepat pemerintah federal Kolombia ini segera memicu sorotan global dan perbandingan luas dengan penanganan krisis di negara tetangga, Venezuela, yang sebelumnya dinilai lamban dan tertutup saat menghadapi bencana gempa bumi bermagnitudo besar.
Christopher Sabatini, seorang pengamat senior Amerika Latin dari lembaga kajian Chatham House, menilai perbedaan respons tersebut berpakar pada sistem politik masing-masing negara.
Menurutnya, transparansi dan ketanggapan institusional di Kolombia mencerminkan karakter demokrasi yang hidup, kontras dengan birokrasi tertutup di negara berhaluan otoriter.
Kendati demikian, para ahli memperingatkan agar pemerintah tidak lengah. Orlando Pérez, pakar politik dari University of North Texas at Dallas, menegaskan bahwa efisiensi awal ini harus segera dikawal dengan program rekonstruksi jangka panjang yang konkret.
"Semua orang memuji respons cepat kepemimpinan nasional, tetapi situasi bisa memburuk dengan cepat jika energi awal ini tidak ditindaklanjuti dengan pemulihan efektif serta jaminan hidup bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan," ujar Pérez mengingatkan.










