TVRINews – Washington DC
Washington Mendadak Batalkan Pengiriman 4.000 Prajurit, Picu Kekhawatiran Geopolitik di Kawasan Eropa Timur
Keputusan mendadak untuk menghentikan pengerahan lebih dari 4.000 tentara Amerika Serikat (AS) ke Polandia dilaporkan telah mengejutkan sejumlah pejabat tinggi di Pentagon.
Melansir laporan Politico, Jumat 15 Mei 2026, keputusan pembatalan tersebut diambil secara tiba-tiba tanpa koordinasi yang matang sebelumnya.
"Kami sama sekali tidak tahu ini akan terjadi," ujar seorang pejabat AS yang enggan disebutkan identitasnya.
Ia menambahkan bahwa para pejabat Amerika dan Eropa menghabiskan waktu 24 jam terakhir untuk memahami latar belakang keputusan tersebut, sekaligus mengantisipasi munculnya kebijakan mengejutkan lainnya.
Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan bahwa pengiriman lebih dari 4.000 personel militer AS ke Polandia yang awalnya merupakan bagian dari rotasi pasukan rutin telah ditangguhkan. Penundaan ini terjadi justru ketika sebagian personel dan peralatan militer sudah berada dalam perjalanan menuju Eropa.
Penangguhan ini dilaporkan berdampak pada elemen-elemen penting dari Tim Tempur Brigade Lapis Baja ke-2 dari Divisi Kavaleri ke-1 AS.
Ancaman Terhadap Efek Gentar NATO
Kebijakan ini langsung memicu reaksi keras dari para pakar pertahanan. Mantan Komandan Angkatan Darat AS di Eropa, Letnan Jenderal Ben Hodges, memperingatkan bahwa keputusan ini berisiko melemahkan posisi tawar dan efek gentar (deterrence posture) NATO terhadap Rusia.
"Peran Angkatan Darat di Eropa sepenuhnya adalah untuk menangkal Rusia, melindungi kepentingan strategis Amerika, dan meyakinkan para sekutu," tegas Hodges. "Kini, aset sangat penting yang seharusnya menjadi bagian dari pencegahan tersebut telah hilang."
Hodges juga menyoroti loyalitas geopolitik Polandia yang selama ini dikenal sangat selaras dengan kebijakan Washington.
"Pihak Polandia tidak pernah mengkritik Presiden Donald Trump. Mereka melakukan semua hal yang seharusnya dilakukan oleh sekutu yang baik. Namun, hal ini tetap saja terjadi," lanjut Hodges.
Senada dengan Hodges, Mantan Pejabat Finlandia, Joel Linnainmaki, menilai langkah ini sebagai tantangan besar bagi stabilitas keamanan di Benua Biru.
Menurutnya, AS sedang menggeser beban tanggung jawab keamanan ke pundak negara-negara Eropa dengan cara yang mengganggu.
"Bagi para sekutu yang berbatasan langsung dengan Rusia, kebijakan ini jelas akan mengubah kalkulasi strategis mereka," kata Linnainmaki.
Sebagai catatan, Polandia dan Finlandia merupakan dua negara anggota NATO yang berbagi perbatasan darat langsung dengan Rusia, di mana Finlandia memegang rekor perbatasan terpanjang aliansi tersebut dengan Moskow.
Tren Pengurangan Pasukan AS di Eropa
Langkah mendadak di Polandia ini memperpanjang tren pengurangan kehadiran militer Washington di Eropa. Awal bulan ini, Pentagon juga telah mengumumkan rencana penarikan sekitar 5.000 tentara AS dari Jerman.
Konteks penarikan pasukan di Jerman tersebut disinyalir menyusul ketegangan yang terjadi antara Presiden Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Hubungan keduanya merenggang setelah pemimpin Jerman itu melayangkan kritik terbuka terhadap cara Gedung Putih menangani eskalasi konflik AS dengan Iran.
Secara garis besar, Presiden Trump berulang kali menegaskan argumennya bahwa negara-negara Eropa kurang berkontribusi dalam mendanai pertahanan mereka sendiri.
Hal ini memicu sikap Washington untuk terus menimbang pengurangan jejak militer Amerika di seluruh kawasan Eropa.










