TVRINews – Beirut
Kementerian Kesehatan Lebanon Melaporkan Tiga Paramedis Tewas di Harouf Saat AS Mengumumkan Perpanjangan Gencatan Senjata 45 Hari
Di tengah momentum diplomatik Washington yang berhasil memperpanjang masa gencatan senjata selama 45 hari, eskalasi militer di lapangan justru kembali memakan korban jiwa.
Otoritas kesehatan Lebanon melaporkan serangan udara Israel menghantam wilayah selatan negara tersebut dan menewaskan enam orang, termasuk tiga petugas medis Jumat 15 Mei 2026 malam waktu setempat.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa serangan tersebut membidik sebuah pusat pertahanan sipil di Kota Harouf.
Selain korban tewas, seorang paramedis lainnya dilaporkan dalam kondisi kritis akibat luka berat. Hingga berita ini diturunkan, pihak militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait insiden di Harouf tersebut.
Diplomasi Washington di Tengah Ketegangan
Insiden fatal ini terjadi sesaat setelah Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah sepakat untuk memperpanjang masa gencatan senjata yang selama ini berjalan rapuh. Kesepakatan tersebut dicapai setelah melalui negosiasi intensif selama dua hari di Washington DC.
Meskipun kesepakatan damai ini awalnya diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada 16 April lalu, implementasi di lapangan terus diwarnai oleh aksi saling balas tembakan antara militer Israel dan kelompok Hizbullah.
Sebelum insiden terakhir di Harouf, Kementerian Kesehatan Lebanon juga mencatat 22 korban jiwa, termasuk delapan anak-anak, akibat serangkaian serangan udara Israel di wilayah selatan.
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menyatakan optimisme sekaligus langkah strategis berikutnya dari pemerintah AS untuk meredam konflik.
"Kami berharap diskusi ini akan memajukan perdamaian abadi antara kedua negara, pengakuan penuh terhadap kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing, serta menciptakan keamanan nyata di sepanjang perbatasan bersama mereka," ujar Pigott dikutip BBC News Sabtu 16 Mei.
Washington menjadwalkan peluncuran jalur keamanan (security track) di Pentagon pada 29 Mei mendatang dengan melibatkan delegasi militer dari kedua negara, yang kemudian akan dilanjutkan dengan rekonvensi jalur politik pada bulan Juni.
Respon Diplomatik Dua Negara
Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, menggambarkan kemajuan di Washington sebagai diskusi yang "jujur dan konstruktif." Di sisi lain, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menegaskan fokus pemerintahannya untuk menggalang solidaritas regional dalam menghadapi perundingan lanjutan.
"Kami berharap dapat memobilisasi seluruh dukungan Arab dan internasional untuk memperkuat posisi kami dalam negosiasi dengan Israel," ungkap PM Nawaf Salam.
Kontras dengan upaya meja perundingan, intensitas serangan udara dan artileri Israel di Lebanon selatan justru meningkat dalam beberapa hari terakhir. Tel Aviv menegaskan bahwa operasi militer tersebut murni menargetkan infrastruktur dan pejuang Hizbullah guna membangun zona penyangga (buffer zone) demi mencegah serangan di masa depan.
Sebaliknya, Beirut menuduh Israel sengaja membidik warga sipil dan fasilitas medis sebuah klaim yang secara konsisten dibantah oleh pihak Israel.
Laporan dari sejumlah lembaga hak asasi manusia menyoroti kehancuran total di beberapa desa di Lebanon selatan, mengindikasikan pola taktis yang serupa dengan operasi militer di Gaza, yang dalam beberapa kasus dinilai dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Konflik yang bermula pada 2 Maret dipicu pasca-serangan bersama AS dan Israel ke Iran yang kemudian direspons Hizbullah dengan hujan roket telah menciptakan krisis kemanusiaan masif.
Lebih dari satu juta warga Lebanon, atau setara dengan seperlima populasi negara tersebut, terpaksa mengungsi dari kediaman mereka di wilayah selatan, Lembah Bekaa, dan pinggiran kota Beirut (Dahieh).
Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Lebanon, akumulasi korban tewas di pihak Lebanon telah mencapai sedikitnya 2.896 jiwa. Sementara itu, otoritas Israel mencatat 18 tentara dan empat warga sipil tewas dalam periode konflik yang sama.










