TVRINews – Kinshasa
Otoritas Kesehatan Afrika Selidiki Dugaan Varian Baru Virus Ebola di Provinsi Ituri
Otoritas kesehatan regional bergerak cepat mengoordinasikan langkah darurat guna mengendalikan lonjakan kasus Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (RD Kongo).
Berdasarkan laporan terbaru Kementerian Kesehatan Kongo, virus demam berdarah yang mematikan ini telah merenggut sedikitnya 65 korban jiwa.
Hingga saat ini, sebanyak 246 kasus suspek telah dilaporkan di Provinsi Ituri, wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Uganda dan Sudan Selatan.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) menyatakan kekhawatiran mendalam atas potensi penyebaran yang lebih luas.
Karakteristik wilayah Ituri yang didominasi oleh kota-kota pertambangan dengan mobilitas penduduk yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pengendalian penyakit menular.
The Guardian pada Jumat 15 Mei 2026 merilis, Ebola merupakan penyakit parah dengan tingkat kematian tinggi. Virus ini menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti darah atau muntahan dari orang yang terinfeksi, maupun melalui kontak dengan jenazah selama proses pemakaman.
Indikasi Strain Baru
Laboratorium penelitian nasional RD Kongo mengonfirmasi bahwa virus Ebola terdeteksi pada 13 dari 20 sampel yang diuji. Sejak virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976, RD Kongo telah menghadapi 16 kali wabah Ebola.
Secara historis, wabah di negara tersebut umumnya disebabkan oleh Zaire strain, jenis virus Ebola yang telah memiliki vaksin penangkal.
Namun, Africa CDC mengungkapkan bahwa hasil pengujian awal menunjukkan indikasi adanya jenis virus yang berbeda pada wabah kali ini. Hasil sekuensing genetik lengkap dijadwalkan selesai dalam waktu 24 jam untuk memastikan kepastian varian tersebut.
Merespons situasi kritis ini, lembaga pengawas kesehatan Benua Afrika tersebut menggelar pertemuan darurat bersama otoritas RD Kongo, Uganda, Sudan Selatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta sejumlah perusahaan farmasi.
"Africa CDC berdiri dalam solidaritas bersama pemerintah dan rakyat Republik Demokratik Kongo dalam menanggulangi wabah ini," ujar Dr. Jean Kaseya, Direktur Jenderal Africa CDC. "Mengingat tingginya pergerakan populasi antara wilayah terdampak dan negara-negara tetangga, koordinasi regional yang cepat sangatlah esensial."Kuitp The Guardian
Faktor Risiko Wilayah Tropis
Sejauh ini, laporan kasus didominasi dari zona kesehatan Mongwalu dan Rwampara, sementara sejumlah kasus suspek mulai ditemukan di wilayah tetangga, Bunia.
Penyebaran yang berulang di kawasan ini turut mendapat perhatian dari komunitas ilmiah internasional.
Dr. Michael Head, peneliti senior bidang kesehatan global dari University of Southampton, Inggris, memaparkan bahwa RD Kongo memang kerap mencatatkan fatalitas akibat Ebola karena akumulasi berbagai faktor pendukung.
"Ada kombinasi faktor yang memicu terjadinya wabah berkala ini. Kontak dekat antara manusia dengan reservoir hewan kemungkinan besar kelelawar, atau bisa juga primata merupakan salah satu pemicunya.
Faktor risiko lainnya meliputi mobilisasi penduduk dari lingkungan pedesaan ke perkotaan, iklim tropis, serta cakupan hutan hujan yang luas," jelas Dr. Michael Head.
Sebagai catatan sejarah, wabah Ebola terbesar yang pernah melanda Afrika Barat pada periode 2014–2016 silam mencatatkan estimasi 28.000 kasus dengan korban meninggal mencapai 11.000 jiwa.










