TVRINews – Kyiv
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkap rencana Moskow merekrut puluhan ribu prajurit Korea Utara dan pasokan rudal balistik baru untuk memperluas eskalasi perang.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan eskalasi militer lanjutan menyusul indikasi kuat bahwa Rusia berupaya mendatangkan 30.000 tambahan tentara dari Korea Utara. Hal ini dinilai tidak hanya mengancam kedaulatan Ukraina, tetapi juga memicu instabilitas keamanan di kawasan regional Asia.
Dalam keterangan resmi yang diunggah melalui akun media sosial X minggu 26 Juli 2026, Zelenskyy memaparkan bahwa persiapan logistik dan infrastruktur untuk menampung puluhan ribu personel militer tersebut telah dimulai sejak Juni lalu. Wilayah Voronezh di Rusia, yang terletak berdekatan dengan perbatasan Ukraina, dipilih sebagai pusat koordinasi penerimaan pasukan.
"Rusia ingin menerima 30.000 tentara lagi dari Korea Utara. Sejak Juni, persiapan telah berjalan di wilayah Voronezh, Rusia, untuk menyambut mereka," ujar Zelenskyy dalam narasinya.
Selain pengerahan personel darat, rezim Pyongyang dilaporkan tengah bersiap mengirimkan tambahan peluncur rudal balistik ke medan perang. Menurut pemimpin Ukraina tersebut, transfer teknologi militer ini memberikan keuntungan timbal balik yang berbahaya bagi stabilitas global.
Rusia disebut membantu Korea Utara memahami strategi pertempuran modern, meningkatkan efektivitas persenjataan, serta memberikan kesempatan bagi militer Pyongyang untuk memperoleh pengalaman tempur secara langsung.
"Semua ini merupakan ancaman bagi siapa pun di Asia yang berada dalam jangkauan rudal Korea Utara," tegas Zelenskyy, sembari menekankan bahwa perluasan aliansi militer ini melampaui batas teritorial Eropa.
Di sisi lain, solidaritas politik dan militer antara Moskow dan Pyongyang semakin erat terjalin. Hal ini dikonfirmasi melalui kunjungan Menteri Luar Negeri Korea Utara, Choe Son Hui, ke Moskow pekan ini guna melakukan pembicaraan bilateral tingkat tinggi.
Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, melaporkan bahwa Pyongyang menegaskan kembali komitmen penuh terhadap kebijakan domestik maupun luar negeri Rusia. Dukungan tersebut diarahkan untuk apa yang mereka sebut sebagai upaya mengeliminasi akar penyebab konflik Ukraina, serta melindungi kedaulatan, integritas teritorial, dan keadilan internasional Rusia.
Sebagai bentuk apresiasi, Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas aliansi strategis tersebut melalui rekaman video yang dirilis sebelum kunjungan resmi Menlu Choe berlangsung.
Berdasarkan analisis intelijen internasional, kerja sama militer ini melibatkan skema timbal balik yang masif. Sebagai kompensasi atas bantuan militer yang diberikan, Korea Utara dikabarkan menerima pasokan dana tunai, alih teknologi militer strategis, serta bantuan pangan dan energi.
Dukungan ini dinilai sangat vital bagi Pyongyang untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah sanksi internasional berlapis yang dijatuhkan akibat program senjata nuklir mereka.









