TVRINews – Rio De Janeiro, Brasil
Persaingan Sengit Putaran Kedua Pemilu Brasil: Lula da Silva Berjuang Rebut Kembali Keunggulan dari Flávio Bolsonaro.
Lebih dari satu juta pendukung calon presiden petahana dari sayap kiri, Luiz Inácio Lula da Silva, memadati Pantai Copacabana di Rio de Janeiro pada Sabtu 24 Oktober 2026 waktu setempat.
Aksi massa berskala besar ini digelar sebagai upaya terakhir untuk menggalang dukungan menjelang pemungutan suara putaran kedua Pemilihan Presiden Brasil.
Hampir 159 juta warga Brasil terdaftar untuk menentukan pilihan pada hari ini Minggu 25 Oktober 2026. Pemilihan ini mempertemukan Lula dengan rivalnya dari sayap kanan, Flávio Bolsonaro, dalam kontes politik yang berlangsung sangat ketat setelah hasil pemungutan suara putaran pertama pada 4 Oktober lalu menunjukkan selisih yang tipis.
(Luiz Inácio Lula da Silva melambaikan tangan kepada para pendukungnya di Pantai Copacabana, Sabtu, 24 Oktober 2026. [Foto: Dhavid Normando/AP])
Dalam tradisi politik Brasil sejak kembalinya sistem demokrasi pada dekade 1980-an, kandidat yang kalah di putaran pertama belum pernah berhasil membalikkan keadaan. Meski demikian, kubu pendukung Lula optimistis dapat mengukir sejarah baru.
"Masyarakat telah bangkit. Anak-anak muda menyadari bahwa kita membutuhkan kemenangan ini demi mempertahankan demokrasi," ujar Josias Silva (61), seorang pengemudi truk yang hadir dalam rapat umum di Rio de Janeiro sebagaimana di kutip The Guardian.
Di sisi lain, jajak pendapat menunjukkan posisi Flávio Bolsonaro masih unggul tipis. Putera dari mantan Presiden Jair Bolsonaro tersebut berhasil menarik perhatian pemilih melalui janji kampanye penegakan hukum yang tegas terhadap tindak kejahatan kekerasan.
(Warga menyaksikan debat televisi antara Flávio Bolsonaro dan rival pemilunya, Jumat, 23 Oktober 2026. [Foto: Adriano Machado/Reuters])
Kendati demikian, konstelasi politik menjelang pemungutan suara diwarnai oleh berbagai isu kontroversial. Laporan media lokal mengenai dugaan keterlibatan sejumlah pihak dalam skandal politik terkini turut memengaruhi dinamika persaingan di tingkat konstituen.
"Ini bukan sekadar pertarungan antara sayap kiri dan kanan, melainkan upaya untuk menjaga stabilitas dan masa depan institusi demokrasi kita," kata Marta Moraes (59), seorang pemilik restoran yang berpartisipasi dalam aksi tersebut.
Sementara itu, kubu Flávio Bolsonaro juga menggelar konsolidasi massa secara masif di wilayah strategis, termasuk di kota Belo Horizonte, negara bagian Minas Gerais. Ribuan pendukung yang mengenakan pakaian kuning khas tim nasional Brasil memadati Praça da Liberdade untuk memberikan dukungan moral.
"Kami menginginkan pemerintahan yang berfokus pada kemajuan ekonomi serta memberikan hak kepada warga negara untuk melindungi diri mereka sendiri," ungkap Marcos Antonio (56), seorang pelaku usaha yang hadir dalam rapat umum pendukung Bolsonaro.
Minas Gerais dinilai sebagai wilayah penentu (bellwether) yang amat krusial. Secara historis, belum pernah ada calon presiden Brasil yang memenangi pemilu tanpa mengamankan keunggulan di negara bagian dengan jumlah pemilih terbesar kedua di negara tersebut.
Dengan dinamika mobilitas massa dan polarisasi yang tinggi di kedua kubu, pemungutan suara pada hari Minggu diprediksi akan menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah politik modern Brasil.










