TVRINews – Los Angeles,USA
Konflik antara Trump dan Gubernur Newsom memuncak setelah pengerahan militer di Los Angeles. Isu demokrasi, kedaulatan negara bagian, dan otoritarianisme mewarnai ketegangan politik yang belum mereda.
Konflik terbuka antara Presiden Donald Trump dan Gubernur California Gavin Newsom kembali membara setelah pemerintah federal secara sepihak mengerahkan lebih dari 4.000 personel Garda Nasional dan 700 Marinir ke Los Angeles tanpa persetujuan negara bagian. Langkah tersebut diambil menyusul demonstrasi yang meletus akibat kebijakan penegakan imigrasi, namun kini memicu tudingan keras dari Newsom yang menyebut tindakan Trump sebagai "kudeta terselubung terhadap demokrasi."
Dalam pernyataan tegasnya, Newsom menyebut kehadiran militer sebagai “pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara bagian.” Ia bahkan menggugat Presiden ke pengadilan dan menuding Trump memanfaatkan kekacauan sebagai dalih untuk memperluas kekuasaan ala “rezim otoriter.”
Sementara itu, Trump bersikeras bahwa intervensinya adalah “penyelamatan” bagi Los Angeles yang menurutnya telah “nyaris hancur” akibat ulah demonstran yang disebutnya sebagai “musuh asing” dan “binatang.” Ia juga mengejek sang gubernur dengan julukan “Newscum,” sembari menyatakan Newsom tidak mampu mengendalikan keadaan.
Ketegangan makin memuncak ketika Trump menyambut positif wacana penangkapan Newsom karena diduga menghalangi hukum federal. “Saya akan lakukan jika saya Tom,” ujar Trump, merujuk pada Tom Homan, tokoh kontroversial dalam kebijakan imigrasi.
Newsom membalas dengan tantangan terbuka. “Tangkap saya. Ayo kita selesaikan saja, lelaki tangguh,” ujarnya dalam wawancara dengan MSNBC. Ia juga menyebut Trump telah melewati batas dengan menyerukan penangkapan gubernur yang sedang menjabat sesuatu yang dikatakannya sebagai “hari tergelap dalam demokrasi Amerika.”
Perseteruan ini terjadi menjelang rencana parade militer besar-besaran di Washington DC yang bertepatan dengan ulang tahun ke-79 Trump. Newsom mengecam parade itu sebagai simbolisme kekuasaan diktator. “Ini bukan perayaan negara, ini kultus pribadi,” kata Newsom.
Sementara itu, kelompok-kelompok sipil telah mengumumkan aksi protes bertajuk “No Kings Day” yang akan digelar secara nasional. Trump memperingatkan bahwa demonstrasi lanjutan akan dihadapi dengan “kekuatan yang lebih besar.”
Hingga Rabu (11/6) , konflik ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Yang jelas, krisis di Los Angeles kini telah menjelma menjadi perang terbuka antara dua poros kekuatan politik Amerika: Gedung Putih dan Sacramento.
Editor : Redaksi TVRINews
Baca Juga: Varian Nimbus Mengancam: Covid-19 Kembali Menyebar di 22 Negara










