TVRINews – Bangkok,Thailand
Jalan Berliku Sang Pengusaha Konstruksi Menuju Puncak Kekuasaan
Anutin Charnvirakul, sosok yang baru saja dilantik sebagai Perdana Menteri Thailand, dikenal sebagai politikus yang lihai dan pragmatis. Ia terampil bermanuver di tengah jurang politik Thailand yang terpecah. Namun, bagaimana sosok yang paling dikenal berkat kampanyenya melegalkan ganja ini berhasil menduduki kursi nomor satu di pemerintahan?
Anutin, 58 tahun, mendapat dukungan kuat dari kekayaan keluarganya dan basis massa yang solid di wilayah Isan, timur laut Thailand, tempat partainya, Bhumjaithai, sangat populer di kalangan masyarakat pedesaan. Namun, keahlian terbesarnya adalah kemampuannya menavigasi lanskap politik Thailand yang terpolarisasi selama dua dekade terakhir.
Ia pernah menjabat di pemerintahan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra hingga kudeta militer tahun 2006. Namun, pada tahun 2019, ia justru bergabung dengan musuh bebuyutan Thaksin, mantan komandan Angkatan Darat Prayuth Chan-ocha, sebagai Menteri Kesehatan.
Perjalanan politiknya yang penuh manuver tidak berhenti di situ. Pada tahun 2023, ia menjadi Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri di bawah pemerintahan koalisi yang didukung oleh partai Pheu Thai, yang dipimpin oleh putri Thaksin, Paetongtarn Shinawatra.
Aliansi yang rapuh ini pecah pada bulan Juni tahun ini, ketika Anutin menarik partainya dari koalisi setelah Paetongtarn terperosok dalam kontroversi. Paetongtarn, yang saat itu menjabat Perdana Menteri, membuat pernyataan ceroboh tentang ketegangan perbatasan dengan Kamboja selama panggilan telepon dengan Presiden Senat Kamboja, Hun Sen. Rekaman panggilan tersebut kemudian bocor dan memicu kemarahan publik. Paetongtarn diberhentikan oleh Mahkamah Konstitusi karena pelanggaran etika, membuka jalan bagi Anutin untuk naik ke tampuk kekuasaan.
Para pakar politik, seperti Napon Jatusripitak dan Suthikarn Meechan, dalam artikelnya menyebut Bhumjaithai sebagai "makelar kekuasaan murni".
"Ini berasal dari kurangnya komitmen ideologis, taktik agresif dalam merebut anggota parlemen dari partai lain, dan pragmatisme ala Teflon dalam membentuk dan mengubah aliansi," tulis mereka.
Anutin, yang lahir di Bangkok pada tahun 1966, adalah putra dari pengusaha konstruksi terkemuka. Setelah menempuh pendidikan di Hofstra University, New York, ia bergabung dengan perusahaan keluarganya, Sino-Thai Engineering and Construction PCL, yang terlibat dalam proyek-proyek besar seperti Bandara Suvarnabhumi Bangkok.
Karir politiknya dimulai pada tahun 1996. Setelah dilarang berpolitik selama lima tahun pascakudeta 2006, Anutin kembali ke dunia bisnis dan mengasah hobi terbangnya dengan pesawat pribadi. Ia juga dikenal sebagai penggemar kuliner. "Makan selalu menjadi kesenangan besar dalam hidup saya," ungkapnya.
Setelah larangan politiknya berakhir, Anutin mengambil alih kepemimpinan Bhumjaithai dan berhasil menjadikan partainya sebagai kekuatan politik berpengaruh di timur laut Thailand. Prestasi terbesarnya adalah dekriminalisasi ganja pada tahun 2022, sebuah kebijakan yang ia perjuangkan untuk manfaat medis, kesehatan, dan ekonomi. Namun, kebijakan ini juga menuai kritik karena kurangnya regulasi yang komprehensif.
Selain itu, Anutin juga mengawasi respons Thailand terhadap pandemi COVID-19, yang membuatnya mendapat kritik keras karena dianggap lamban dalam mendapatkan pasokan vaksin. Meski demikian, berbagai rintangan ini tidak menghalangi langkahnya menuju kursi perdana menteri.
Editor : Redaksi TVRINews










