TVRINews – Seoul
Respons gertakan aliansi AS dan sekutunya, Pyongyang bersumpah tidak akan pernah lakukan denuklirasi selamanya.
Korea Utara secara tegas menolak seruan aliansi keamanan Quad yang beranggotakan Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan India untuk menghentikan program senjata nuklirnya. Pyongyang menegaskan bahwa denuklirasi di Semenanjung Korea "tidak akan pernah terjadi untuk selamanya."

(Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un saat meninjau pangkalan pelatihan operasional utama di Korea Utara, diakses pada 22 September 2025. (Foto via KCNA))
Sikap keras ini dirilis melalui media resmi pemerintah Korea Utara pada Kamis, merespons pernyataan bersama para menteri luar negeri Quad setelah pertemuan di New Delhi pada Selasa lalu. Aliansi tersebut kembali menegaskan komitmen mereka untuk mendesak pelucutan senjata nuklir Pyongyang.
Langkah Quad ini bertepatan dengan laporan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang mendeteksi adanya peningkatan signifikan pada kapasitas produksi hulu ledak nuklir Korea Utara.
Alat Politik Washington
Melansir laporan kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA), juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa Pyongyang tidak akan pernah melepas sistem pertahanan nuklirnya.
"Quad tidak lebih dari sekadar alat politik dan diplomatik yang melayani strategi AS untuk dominasi unipolar," ujar juru bicara tersebut.
Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengecam keras posisi Quad yang dianggap memusuhi negaranya. Mereka mendesak aliansi tersebut untuk menghentikan segala tindakan yang dinilai merusak perdamaian dan stabilitas regional.
Pyongyang juga menuding bahwa penguatan kerja sama di dalam Quad sengaja dirancang untuk "membenarkan langkah persenjataan kembali Jepang serta kepemilikan kapal selam nuklir oleh Australia."
Di sisi lain, Korea Utara menegaskan akan terus mempertahankan kedaulatan serta kepentingan keamanannya, sekaligus menentang pembentukan aliansi eksklusif dan konfrontasi blok di kawasan Asia-Pasifik.
Lonjakan Aktivitas Reaktor Nuklir
Di tengah ketegangan diplomatik tersebut, Kepala IAEA Rafael Grossi mengungkapkan kekhawatiran mendalam mengenai perkembangan teknologi militer Pyongyang. Berbicara di Seoul setelah bertemu Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun, Grossi menyebut adanya indikasi kuat percepatan produksi senjata.
"Dalam penilaian periodik kami, kami telah mengonfirmasi adanya peningkatan pesat dalam operasi reaktor Yongbyon," kata Grossi.
Grossi menambahkan bahwa IAEA juga mengamati peningkatan aktivitas di unit pemrosesan ulang, reaktor air ringan, serta aktivasi beberapa fasilitas penunjang lainnya di Yongbyon.
"Semua itu mengarah pada peningkatan yang sangat serius dalam kemampuan Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) di bidang produksi senjata nuklir, yang diperkirakan telah mencapai puluhan hulu ledak," tutur Grossi, menggunakan nama resmi Korea Utara.
Pergeseran Fokus Geopolitik
Menanggapi dinamika ini, seorang pejabat di Kementerian Unifikasi Korea Selatan memberikan analisis terkait arah kebijakan luar negeri Pyongyang.
Menurut Seoul, Korea Utara sejak lama memandang Quad sebagai embrio dari "NATO versi Asia" dan konsisten melayangkan kritik terhadap kelompok tersebut.
Namun, Seoul mencatat adanya perbedaan pola retorika Pyongyang tahun ini. Jika tahun lalu kritik Korea Utara hanya berfokus pada Amerika Serikat, kali ini mereka secara spesifik menyerang Jepang dan Australia.










