TVRINews – Zawtar al-Gharbieh, Lebanon
Warga sipil mulai kembali ke desa selatan Lebanon setelah kesepakatan damai tercapai di tengah situasi keamanan yang masih sangat rapuh.
Suasana duka menyelimuti kepulangan warga ke desa mereka di wilayah selatan Lebanon setelah kesepakatan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat mulai berlaku. Di tengah puing-puing bangunan dan reruntuhan beton, warga berupaya merajut kembali kehidupan yang porak-poranda akibat konflik berkepanjangan antara Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah.
Berdasarkan laporan Associated Press (AP) Rabu 29 Juli 2026, pemandangan memilukan menyambut para warga yang baru tiba. Rumah-rumah hancur, dinding dipenuhi lubang peluru, serta coretan yang diduga ditinggalkan oleh pasukan militer Israel menjadi pemandangan utama di desa Zawtar al-Gharbieh.

(Tentara Lebanon dan seorang warga memeriksa reruntuhan rumah yang hancur akibat operasi militer Israel di Zawtar al-Gharbieh, Lebanon selatan, Selasa, 28 Juli 2026. (Foto AP/Hassan Ammar))
Menara masjid setempat juga mengalami kerusakan parah pada bagian kubah pirusnya akibat terjangan konflik.
Kesepakatan pembentukan "zona percontohan" (pilot zones) melalui perundingan langsung antara Lebanon dan Israel membuka akses bagi warga sipil serta tentara nasional Lebanon untuk memasuki kembali kawasan tersebut.
Meski demikian, situasi keamanan masih sangat rentan. Kehadiran kendaraan militer dan deru pesawat tanpa awak (drone) Israel di langit selatan Lebanon menunjukkan bahwa normalisasi penuh masih membutuhkan waktu panjang.

(Mahasen Faqih dan suaminya, Mohammed Sobeih, duduk di tengah reruntuhan rumah mereka setelah kembali usai operasi militer Israel di Zawtar al-Gharbieh, Lebanon, Selasa, 28 Juli 2026. (Foto AP/Hassan Ammar))
Mahasen Faqih bersama suaminya, Mohammed Sobeih, menjadi sebagian kecil warga yang nekat pulang ke Zawtar al-Gharbieh meski tempat tinggal mereka sudah tidak layak huni. Langit-langit rumah mereka runtuh dan seluruh ruangan hancur berkeping-keping.
Demi bertahan hidup, pasangan tersebut memilih tinggal sementara di dalam toko kelontong milik mereka yang selamat dari kehancuran total sambil menunggu proses rekonstruksi dimulai.
Ketidakpastian masih menyelimuti kawasan perbatasan selatan Lebanon. Eskalasi konflik di wilayah ini sebelumnya meningkat tajam menyusul rangkaian bentrokan bersenjata antara Hizbullah dan militer Israel yang meletus setelah ketegangan geopolitik melibatkan Amerika Serikat dan Iran pada Februari lalu.
Pertempuran sengit tersebut memicu serangan udara serta operasi darat berskala besar yang meninggalkan trauma mendalam bagi warga sipil di kedua belah pihak.









