TVRINews – Washington
Dinamika Washington: Dibalik Pertemuan Ganda Trump dengan Pemimpin Ukraina dan Israel
Gedung Putih menjadi pusat diplomasi internasional pada Selasa 28 Juli 2026, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar pertemuan maraton secara berturut-turut dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Pertemuan ini menyoroti dua krisis geopolitik utama yang kini tengah mendesak perhatian Washington di tengah tekanan domestik yang kian meningkat.

(Volodymyr Zelenskyy (Kiri) berbicara dengan Donald Trump di Washington DC pada hari Selasa 28 Juli 2026. (Foto: Layanan pers kepresidenan Ukraina melalui AFP) )
Bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kunjungan ini menandai kembalinya dirinya ke Ruang Oval untuk pertama kalinya sejak ia dan Trump meluncurkan kampanye militer gabungan melawan Iran pada 28 Februari.
Namun, hubungan kedua pemimpin tersebut diwarnai ketegangan dalam beberapa pekan terakhir akibat perbedaan sikap terkait kelanjutan konflik di Lebanon dan jalur diplomasi dengan Teheran.
Di tengah situasi tersebut, Gedung Putih menyatakan bahwa pertemuan tertutup yang berlangsung selama sekitar satu jam itu membahas sejumlah isu krusial. Agenda utama meliputi dinamika keamanan Iran, kerangka kesepakatan antara Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon, serta potensi perluasan Kesepakatan Abraham.
Netanyahu juga mengemban misi diplomasi yang tidak mudah untuk meyakinkan Washington bahwa pemerintahannya tidak akan menghambat proses perdamaian di Gaza dan Lebanon. Tantangan ini semakin kompleks di tengah penurunan dukungan publik Amerika Serikat terhadap Israel, menyusul hasil jajak pendapat AP-Norc yang mencatat penurunan tajam di tengah perdebatan panjang mengenai situasi kemanusiaan di Gaza.
Di sisi lain, pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berlangsung dalam nuansa yang dinilai konstruktif oleh kedua belah pihak. Dalam keterangan resminya, Zelenskyy mengungkapkan bahwa pembahasan berfokus pada penguatan kapasitas pertahanan udara Ukraina serta peluang kerja sama industri pertahanan.
"Kami membahas pengaturan lisensi agar Ukraina dapat memproduksi sendiri pencegat untuk sistem rudal Patriot," ujar Zelenskyy. Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali proses diplomasi serta menyampaikan apresiasi atas dukungan konsisten dari Amerika Serikat.
Agenda Zelenskyy di Washington juga diwarnai penghormatan terhadap mendiang Senator Amerika Serikat Lindsey Graham, yang wafat secara mendadak pada usia 71 tahun awal bulan ini usai melawat ke Kyiv.
Kehadiran Zelenskyy di galeri Senat pada Selasa sore menyaksikan langsung langkah legislatif penting, di mana Senat meloloskan rancangan undang-undang sanksi komprehensif terhadap Rusia dan Iran yang dinamai ulang sebagai Lindsey O Graham Sanctioning Russia and Iran Act of 2026. RUU tersebut lolos dengan dukungan mayoritas 86 suara berbanding 12.
Menanggapi rangkaian agenda diplomatik tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana yang positif dan produktif.









