TVRINews – Teheran
Prosesi enam hari di Tehran diproyeksikan menarik jutaan pelayat di tengah ketegangan geopolitik yang mendalam pascakonflik.
Jalanan di ibu kota Iran, Tehran, mulai dipenuhi barikade kepolisian, spanduk, dan kendaraan militer pada Jumat 3 Juli 2026. Suasana ini menandai dimulainya rangkaian upacara pemakaman selama enam hari untuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang menjabat selama 36 tahun sebelum wafat dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu.
Pemakaman ini bukan sekadar seremoni perpisahan bagi sosok pemimpin berusia 86 tahun tersebut, melainkan sebuah demonstrasi besar-besaran yang dirancang untuk menampilkan ketangguhan nasional dan kohesi sosial di tengah kondisi negara yang masih dalam pemulihan pascaperang.
Di pusat kota, patung kepalan tangan raksasa mulai didirikan di Alun-Alun Revolusi, sementara massa pelayat tampak mulai berdatangan dari berbagai penjuru dengan membawa spanduk bertuliskan, "Kita harus bangkit."
Pesan Ketahanan dan Politik
Dalam sebuah upacara tertutup di kompleks Grand Mosalla, peti jenazah Khamenei dipamerkan untuk pertama kalinya kepada publik. Momen tersebut diwarnai duka mendalam dari keluarga yang kehilangan orang terkasih dalam perang, termasuk tragedi yang menimpa cucu Khamenei yang berusia 14 bulan dalam serangan yang sama.
Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Ahmad Vahidi, menegaskan bahwa negara tidak akan menyerah. Dalam narasi yang disiarkan media nasional, Vahidi menyebutkan:
"Dia (Khamenei) memiliki tempat di hati dan jiwa kita. Bagi Iran tercinta dan bangsa Islam, dia adalah sosok yang abadi. Kita tidak akan pernah mengucapkan selamat tinggal padanya." Seperti dikutip The Guardian sabtu 4 juli 2026.
Pemerintah Iran, melalui juru bicara kementerian luar negeri Esmail Baghaei, memanfaatkan momen duka ini untuk kembali melontarkan kritik keras terhadap Barat. Baghaei menuduh negara-negara Eropa berada di "sisi sejarah yang salah" karena sikap mereka terhadap serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi tersebut.
Tantangan Suksesi dan Stabilitas
Di balik demonstrasi loyalitas yang masif, pengamat internasional menyoroti teka-teki mengenai masa depan suksesi. Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang dipandang sebagai calon penerus, tidak tampak dalam prosesi tersebut. Laporan menyebutkan Mojtaba mengalami cedera parah dalam serangan 28 Februari lalu, yang juga menewaskan anggota keluarga lainnya.
Absennya Mojtaba di tengah klaim dukungan dari berbagai faksi politik internal memberikan tekanan tersendiri bagi sistem pemerintahan Iran yang tertutup. Mohammad Reza Aref, Wakil Presiden Pertama sekaligus koordinator utama pemakaman, menyebut acara ini sebagai "peristiwa paling penting abad ini" bagi Iran.
Simbolisme Sejarah
Waktu pelaksanaan pemakaman yang bertepatan dengan bulan Muharram—bulan berkabung bagi umat Islam Syiah sengaja digunakan untuk memperkuat narasi perlawanan. Dalam pidato terakhirnya pada 17 Februari, Khamenei menyamakan posisinya dengan perjuangan sejarah Imam Husayn.
"Seseorang seperti saya tidak akan berbaiat kepada seseorang seperti Yazid. Bangsa dengan budaya Iran tidak akan tunduk pada pemimpin korup seperti mereka yang ada di Amerika," ujar Khamenei dalam pidatonya kala itu.
Prosesi puncak dijadwalkan akan menempuh jarak 10 kilometer melalui pusat kota Tehran pada Senin mendatang, mulai dari Alun-Alun Imam Hossein hingga Alun-Alun Azadi. Rangkaian acara ini akan berakhir pada Kamis di kota Mashhad, tempat peristirahatan terakhir sang pemimpin.
Meskipun otoritas Iran memproyeksikan kehadiran hingga 30 juta orang, tantangan keamanan tetap menjadi prioritas utama. Mengingat kekacauan yang pernah terjadi pada pemakaman pemimpin terdahulu, Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 dan komandan IRGC Qassem Soleimani pada 2020, penyelenggara kini berada di bawah tekanan besar untuk memastikan ketertiban selama prosesi berlangsung.










