TVRINews – Seoul, Korea Selatan
Washington dan Seoul Tinjau Ulang Agenda Pertahanan di Tengah Eskalasi Global
Amerika Serikat secara resmi membatalkan latihan pendaratan amfibi gabungan berskala besar dengan Korea Selatan yang dijadwalkan berlangsung bulan depan. Kebijakan tersebut diambil akibat keterbatasan kesiapan personel menyusul eskalasi konflik yang melibatkan Washington di kawasan Iran.
Korps Marinir Korea Selatan pada senin 24 Agustus 2026 mengonfirmasi bahwa pihak militer Amerika Serikat telah menyampaikan pemberitahuan formal mengenai kendala operasional tersebut. Pembatalan ini memengaruhi Latihan Ssangyong, sebuah agenda tahunan level divisi yang menjadi pilar penting interoperabilitas kedua negara sekutu.
"Sekutu tetap berada dalam konsultasi erat untuk membahas penjadwalan ulang latihan di masa mendatang," ujar juru bicara Korps Marinir Korea Selatan dalam sebuah taklimat media di Seoul.
Kendati demikian, pihak militer belum memaparkan secara rinci langkah kompensasi yang akan diambil guna menutupi kekosongan agenda latihan strategis tersebut. Hingga berita ini diturunkan, Komando Pasukan AS di Korea (USFK) belum memberikan tanggapan resmi.
Keputusan ini menyusul langkah Presiden Donald Trump yang sebelumnya memerintahkan pengurangan cakupan latihan gabungan Ulchi Freedom Shield. Dalam pernyataan melalui platform media sosial Truth Social, Trump menilai pengerahan kekuatan penuh pada latihan sebelumnya kurang selaras dengan dinamika geopolitik terkini.
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah melakukan komunikasi intensif dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun. Pertemuan tingkat tinggi tersebut membahas penguatan koordinasi strategis serta pemeliharaan stabilitas aliansi di kawasan regional.
Dinamika keamanan di Semenanjung Korea juga kian kompleks setelah Pyongyang merespons situasi ini dengan meluncurkan sejumlah rudal balistik jarak pendek pekan lalu. Otoritas Korea Utara secara konsisten mengecam latihan gabungan tersebut sebagai bentuk provokasi dan persiapan invasi militer.










