TVRINews – Seir Al-Balah
Gaza Dilanda Gelombang Pengungsian Baru di Tengah Tekanan Diplomasi Internasional
Gelombang pengungsian baru melanda wilayah Jalur Gaza setelah rentetan serangan udara dan tembakan tank Israel kembali merenggut sedikitnya empat jiwa, termasuk dua anak-anak senin 24 Agustus malma waktu setempat.
Insiden ini terjadi hanya berselang sepekan setelah delegasi Amerika Serikat mendesak pemerintah Israel untuk mengurangi intensitas serangan di wilayah kantong yang porak-poranda akibat perang tersebut.
Berdasarkan keterangan resmi dari pejabat rumah sakit setempat yang dilansir oleh Associated Press (AP), eskalasi militer ini memicu kepanikan massal di tengah penduduk sipil yang sebagian besar telah mengungsi berkali-kali.
Di Kamp Pengungsian Bureij, Gaza tengah, sebuah bangunan kediaman menjadi sasaran serangan udara menyusul peringatan evakuasi yang dikeluarkan oleh militer Israel.
Menurut laporan Rumah Sakit Awda, sebuah keluarga gagal menyelamatkan diri tepat waktu, mengakibatkan seorang anak berusia empat tahun tewas di tempat, sementara ibu serta saudari korban mengalami luka-luka. Hingga berita ini diturunkan, pihak militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait insiden spesifik tersebut.

(Warga Palestina memeriksa reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza, Senin, 24 Agustus 2026. (Foto: AP/Jehad Alshrafi))
Suasana kepanikan tampak nyata di berbagai penjuru wilayah. Penduduk terlihat berlari kencang, para ibu menggendong anak-anak mereka, sementara warga lainnya bergegas mengevakuasi diri di tengah reruntuhan menggunakan kursi roda ataupun tongkat bantu jalan. Kepulan asap tebal tampak membumbung tinggi di atas lanskap wilayah yang telah hancur lebat.
Militer Israel menyatakan bahwa serangan yang dilakukan di Kamp Pengungsian Shati di Kota Gaza serta di Deir al-Balah menyasar dua fasilitas penyimpanan senjata Hamas yang berada di dalam area masjid, setelah sebelumnya melayangkan peringatan dini.
Kendati demikian, pihak militer tidak menyertakan bukti visual atau fisik, namun mengklaim bahwa fasilitas tersebut menyimpan puluhan senapan serbu Kalashnikov, amunisi, serta perlengkapan militer lainnya.
Dalam insiden terpisah di Deir al-Balah, sebuah serangan udara yang menghantam sebuah tenda pengungsian menewaskan seorang pria. Jenazah korban dilarikan ke Rumah Sakit Al-Aqsa. Pihak militer Israel mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menargetkan seorang militan yang berafiliasi dengan unit pasukan khusus Hamas.
Sementara itu, di wilayah selatan tepatnya di Khan Younis, korban jiwa kembali jatuh akibat hantaman peluru kendali dan artileri. Rumah Sakit Nasser melaporkan bahwa seorang pria tewas dan lima orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara.

(sumber: APNews)
Di lokasi berbeda di sebelah timur Khan Younis, tembakan tank Israel menewaskan seorang anak perempuan berusia 10 tahun. Militer Israel menyatakan belum menerima informasi lengkap serta masih melakukan verifikasi terkait insiden yang melibatkan anak di bawah umur tersebut.
Rangkaian serangan mematikan ini terus berlanjut dalam sepekan terakhir, menyusul pertemuan antara delegasi Amerika Serikat dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu guna membahas kelanjutan kesepakatan gencatan senjata.
Seorang sumber yang mengetahui jalannya pertemuan tersebut mengungkapkan kepada AP dengan syarat anonim karena tidak memiliki kewenangan memberikan keterangan pers bahwa negosiator AS meminta Netanyahu untuk meredam skala operasi militer di Gaza.
Namun, catatan menunjukkan bahwa militer Israel tetap melancarkan serangan pada enam dari tujuh hari terakhir sejak pertemuan tingkat tinggi tersebut digelar.
Di sisi lain, pihak militer Israel bersikeras bahwa operasi yang dilakukan merupakan respons atas pelanggaran gencatan senjata serta serangan penembakan yang dilancarkan oleh kelompok militan terhadap tentara Israel.
Tercatat sebanyak lima tentara Israel telah tewas sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan tahun lalu. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, kendati pertempuran skala besar telah menurun sejak Oktober, serangan udara Israel susulan telah merenggut sedikitnya 1.288 nyawa warga Palestina.
Ketegangan geopolitik ini turut diperparah oleh kekhawatiran pihak berwenang Israel terkait kemunculan kembali layang-layang dan balon udara yang diterbangkan dari Gaza menuju wilayah kibbutz di perbatasan.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz dalam pernyataan bersama menegaskan akan meningkatkan operasi militer apabila pihak Hamas gagal menghentikan aktivitas pengiriman benda-benda tersebut, yang pada masa lalu kerap memicu kebakaran lahan.
Menanggapi tudingan tersebut, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengecam ancaman pihak Israel. Ia menyebut benda-benda tersebut sebagai mainan anak-anak belaka dan menuding Israel sengaja membesar-besarkannya sebagai dalih untuk melanjutkan agresi serta pelanggaran terhadap rakyat Palestina.
Konflik berkepanjangan yang bermula sejak eskalasi 7 Oktober 2023 silam telah mencatatkan korban jiwa yang masif di kedua belah pihak, serta memicu krisis kemanusiaan berkepanjangan yang hingga kini masih memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional.










