TVRINews – Bogota
Dua Visi Berlawanan Menentukan Masa Depan Kolombia di Tengah Eskalasi Kekerasan oleh Kelompok Bersenjata.
Pemilihan presiden Kolombia yang digelar hari Minggu ini berlangsung di bawah bayang-bayang konflik internal yang kian memburuk. Ketidakamanan menjadi isu sentral yang mendominasi benak para pemilih, menyusul lonjakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata di berbagai wilayah negara tersebut.
Data dari pemerintah menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Isabelita Mercado Pineda, seorang penasihat pemerintah untuk perdamaian dan rekonsiliasi di Bogotá, mencatat bahwa pengungsian paksa melonjak hingga 300% antara tahun 2024 dan 2025.
"Kami belum pernah melihat pengungsian seperti ini dalam dua dekade terakhir," ujar Pineda. Ia menyebutkan bahwa kegagalan strategi pemerintah, yang menurutnya memberikan terlalu banyak kelonggaran bagi kelompok kriminal tanpa penegakan hukum yang tegas, serta meningkatnya produksi kokain, menjadi pemicu utama.
Kisah tragis warga menjadi bukti nyata dampak konflik ini. Di sebuah pusat bantuan pengungsi di Bogotá, Edilma Martinez Flores menuturkan kepedihan mendalam saat mengenang saudaranya.
"Saudara laki-laki saya dibunuh karena tidak membayar uang pemerasan... di depan anak-anaknya," ungkap Edilma. Ia terpaksa meninggalkan rumahnya di pinggiran Cali setelah kelompok bersenjata menebar ancaman kekerasan.
Dua Visi untuk Kolombia
Dua kandidat yang bersaing menawarkan pendekatan yang sangat bertolak belakang untuk meredam kekerasan yang telah berlangsung selama enam dekade ini.
Senator sayap kiri, Iván Cepeda, mengusung keberlanjutan strategi "total perdamaian" yang digagas Presiden Gustavo Petro. Cepeda, yang merupakan tokoh kunci dalam perjanjian damai 2016, memprioritaskan negosiasi dengan kelompok bersenjata. Pendukungnya meyakini bahwa langkah ini mencegah korban jiwa yang lebih besar.
"Proposal Cepeda tidak hanya mengandalkan kekuatan koersif negara, tetapi juga menyentuh akar struktural ketidakamanan, seperti kemiskinan dan ketimpangan," kata Catalina La Grande, seorang mahasiswa yang mendukung kandidat tersebut.
Di sisi lain, penantang dari kubu konservatif, pengusaha dan pengacara Abelardo de la Espriella yang dikenal dengan julukan El Tigre menawarkan pendekatan tangan besi. Ia menjanjikan pembangunan sepuluh penjara raksasa, tindakan tegas militer, dan penghentian total negosiasi dengan kelompok kriminal.
"Setiap penjahat yang tidak menyerah akan ditumpas," tegas de la Espriella. Ia mendapatkan dukungan dari Donald Trump, yang menyebut bahwa di bawah kepemimpinan de la Espriella, Kolombia akan mendapatkan dukungan penuh dari Amerika Serikat.
Kondisi Lapangan yang Kritis
Situasi keamanan semakin pelik dengan meningkatnya jumlah keanggotaan kelompok bersenjata ilegal, termasuk faksi pembangkang FARC, ELN, dan Clan del Golfo, yang telah melipatgandakan jumlah anggota mereka dalam lima tahun terakhir. Mereka terus memperebutkan kendali atas wilayah pedesaan yang krusial untuk perdagangan narkoba dan pertambangan ilegal.
Bagi warga Kolombia seperti Erin Gamboa dari wilayah Chocó, pemilihan ini bukan sekadar pergantian kekuasaan, melainkan harapan akan perubahan nasib. "Wilayah saya diperebutkan secara sengit; geng kriminal saling berperang memperebutkan wilayah pertambangan ilegal dan perdagangan kokain," ujarnya.
Dengan polarisasi yang tajam dan ketidakpastian keamanan, hasil pemilu pada hari Minggu ini diprediksi akan menentukan arah masa depan Kolombia dalam menghadapi ancaman internal yang terus menggerogoti stabilitas bangsa.










