TVRINews – Kyiv
Serangan Udara Skala Besar Menggunakan Rudal Oreshnik Menewaskan Empat Warga dan Merusak Infrastruktur Sipil di Ibu Kota Ukraina
Rusia meluncurkan serangan udara masif yang melibatkan ratusan pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik ke ibu kota Ukraina, Kyiv, serta wilayah sekitarnya. Serangan ini mengonfirmasi penggunaan ketiga kalinya rudal balistik hipersonik terbaru Rusia, Oreshnik, dalam konflik yang tengah berlangsung.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengonfirmasi bahwa rentetan serangan tersebut menargetkan berbagai infrastruktur sipil, termasuk fasilitas pasokan air, pasar publik, puluhan bangunan tempat tinggal, serta sejumlah sekolah. Kota Bila Tserkva di wilayah Kyiv dilaporkan menjadi salah satu titik hantaman rudal tersebut.
"Serangan ini benar-benar tindakan di luar batas," ujar Zelenskyy melalui saluran Telegram resminya.
Ia menambahkan bahwa pusat serangan terbesar terkonsentrasi di Kyiv, di mana sistem pertahanan udara tidak mampu mengintersepsi seluruh rudal balistik yang datang. Secara total, Kyiv menghadapi gelombang serangan dari sekitar 600 drone dan 90 rudal dari berbagai jenis, termasuk 36 rudal balistik.
Kementerian Pertahanan Rusia membenarkan penggunaan rudal Oreshnik senjata yang mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir.
Melalui pernyataan resmi yang dikutip kantor berita lokal, pihak Moskow menyatakan bahwa operasi tersebut berhasil mengenai pusat komando militer, pangkalan udara, dan fasilitas industri militer Ukraina. Rusia menegaskan serangan ini merupakan tindakan balasan atas serangan Ukraina terhadap "fasilitas sipil di wilayah Rusia" sebelumnya.
Dampak Korban dan Kerusakan Kota
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, melaporkan bahwa dua orang tewas di wilayah ibu kota dan 56 lainnya luka-luka. Secara nasional, otoritas setempat mencatat sedikitnya empat korban jiwa dan sekitar 100 orang mengalami luka-luka akibat gelombang serangan akhir pekan ini.
Kerusakan fisik dilaporkan merata di setiap distrik di Kyiv, memicu kebakaran di sebuah gedung sekolah dan menjebak sejumlah warga di dalam ruang perlindungan bawah tanah sebuah pusat bisnis.
Svitlana Onofryichuk, seorang warga lokal yang telah bekerja selama lebih dari dua dekade di pasar yang hancur terbakar, menggambarkan situasi malam tersebut sebagai momen paling traumatis sepanjang perang.
"Toko saya habis, semuanya terbakar tanpa sisa. Tidak ada lagi alasan bagi saya untuk bertahan di Kyiv," ujarnya kepada Associated Press.
Tatanan budaya dan diplomatik kota juga turut terdampak. Kementerian Kebudayaan Ukraina melaporkan kerusakan pada Museum Seni Nasional Ukraina akibat gelombang kejut ledakan, yang menghancurkan langit-langit dan jendela bangunan bersejarah tersebut. Selain itu, Gedung Kementerian Luar Negeri Ukraina mengalami kerusakan fisik ringan untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia Kedua.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyatakan bahwa serangan ini sengaja menyasar kawasan bersejarah kota. "Ini adalah bukti nyata dari metode destruktif yang mengabaikan nilai-nilai peradaban dan warisan arsitektur," tegas Sybiha melalui platform media sosial Instagram.
Eskalasi Global dan Respons Internasional
Ketegangan terbaru ini terjadi setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin, berjanji akan melakukan aksi balasan menyusul tuduhan serangan drone Ukraina terhadap sebuah asrama mahasiswa di Luhansk, wilayah yang kini dikuasai Rusia. Ukraina membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa target mereka adalah unit komando drone elite di kawasan itu.
Di markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), delegasi Ukraina menolak keras narasi Rusia dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan, dan menyebutnya sebagai bagian dari propaganda politik.
Langkah Moskow ini memicu gelombang kecaman kuat dari para pemimpin Eropa:
• Prancis: Presiden Emmanuel Macron mengecam keras penggunaan rudal Oreshnik dan menyebutnya sebagai refleksi dari jalan buntu strategi militer Rusia.
• Uni Eropa: Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menilai penggunaan rudal tersebut sebagai taktik intimidasi politik dan retorika nuklir yang berbahaya. Ia menjadwalkan pertemuan para menteri luar negeri UE minggu depan guna membahas peningkatan tekanan internasional terhadap Moskow.
• Jerman & Inggris: Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut tindakan ini sebagai eskalasi yang ceroboh, sementara Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper menilai intensifikasi serangan terhadap warga sipil justru menunjukkan titik lemah dalam posisi strategis Moskow.
Rudal Oreshnik pertama kali digunakan dalam operasi militer di kota Dnipro pada November 2024, diikuti serangan kedua di wilayah Lviv pada Januari. Pihak Rusia mengklaim senjata hipersonik ini bergerak dengan kecepatan sepuluh kali kecepatan suara (10 Mach) dan mustahil dihalau oleh sistem pertahanan udara konvensional saat ini. Sejumlah analis Barat masih mengevaluasi klaim kemampuan destruktif senjata tersebut, namun otoritas Kyiv mengakui bahwa saat ini mereka belum memiliki arsitektur pertahanan udara yang mampu membendung proyektil hipersonik kelas tersebut secara penuh.










