TVRINews, New Delhi
Menlu AS Marco Rubio Isyaratkan Kesepakatan Akhir Konflik Dapat Terwujud Segera di Tengah Pengawasan Ketat Gedung Putih
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran dapat terwujud "hari ini". Kendati demikian, Washington tetap menegaskan dukungan penuhnya terhadap hak Israel untuk membela diri dari potensi ancaman regional.
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio di New Delhi, India, di tengah momentum diplomasi intensif pasca-gencatan senjata yang telah berlangsung sejak April lalu.
"Kami mengira akan ada kabar baik tadi malam, atau mungkin hari ini. Namun, saya menyarankan untuk tidak berspekulasi terlalu jauh," ujar Rubio kepada media menjelang keberangkatannya menuju Kota Agra, Senin 25 Mei 2026
Negosiasi Selat Hormuz dan Isu Nuklir
Menurut Rubio, draft perjanjian yang ada saat ini menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan, terutama terkait pemulihan jalur perdagangan maritim internasional yang sempat lumpuh akibat konflik.
• Akses Jalur Laut: Fokus utama kesepakatan tertuju pada pembukaan kembali Selat Hormuz secara aman bagi pemulihan ekonomi global.
• Dukungan Regional: Rubio mengklaim draf ini mendapat respons positif dari negara-negara Teluk yang menilai langkah ini rasional dan krusial bagi stabilitas dunia.
• Substansi Nuklir: AS optimistis bahwa Teheran akan bersedia masuk ke dalam negosiasi yang substansial, nyata, dan memiliki tenggat waktu yang jelas mengenai program nuklir mereka.
"Kami memiliki apa yang saya anggap sebagai tawaran yang cukup solid di atas meja, khususnya terkait kemampuan mereka untuk membuka kembali jalur selat," tambah Rubio.diutip Arab News.
Kendali Strategis Gedung Putih
Meski Rubio membawa optimisme dari lini diplomasi, langkah AS tetap berada di bawah kendali strategis Presiden Donald Trump. Sebelumnya, Presiden Trump sempat meredam ekspektasi publik dengan menginstruksikan para negosiator agar tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Menanggapi arahan tersebut, Rubio menegaskan bahwa kehati-hatian Presiden merupakan langkah preventif agar Washington tidak terjebak dalam komitmen yang merugikan.
"Beliau (Presiden Trump) tidak sedang terburu-buru. Beliau tidak akan membuat kesepakatan yang buruk, dan Presiden tidak akan menandatangani perjanjian yang cacat," tegas Menlu AS tersebut.
Konteks Geopolitik dan Posisi Israel
Konflik bersenjata ini pertama kali pecah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu, yang kemudian memicu aksi balasan dari Teheran melalui serangan rudal serta pesawat tanpa awak (drone) ke berbagai titik di kawasan Timur Tengah. Kedua belah pihak kemudian menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 8 April.
Di sela-sela proses diplomasi ini, AS memastikan bahwa stabilitas keamanan sekutu utamanya, Israel, tidak dapat diganggu gugat. Rubio menggarisbawahi bahwa koridor gencatan senjata tidak membatasi hak pertahanan diri Israel, terutama menghadapi kelompok pro-Iran seperti Hizbullah.
"Israel selalu memiliki hak untuk melindungi dirinya sendiri. Jika Hizbullah meluncurkan atau berniat meluncurkan rudal ke arah mereka, Israel memiliki hak penuh untuk merespons atau mencegah hal itu terjadi. Hal tersebut sudah dipahami bersama, bahkan selama masa gencatan senjata ini berlangsung," pungkas Rubio.










