TVRINews – Washington DC
Presiden Trump umumkan Leavitt berhenti akhir Agustus untuk fokus pada keluarga di tengah tekanan publik terhadap pemerintahannya.
Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih Amerika Serikat, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya. Keputusan ini disampaikan langsung oleh Presiden Donald Trump melalui platform media sosial Truth Social, yang menyebutkan bahwa Leavitt akan melepaskan jabatannya pada akhir Agustus mendatang.
Presiden Trump menyatakan bahwa alasan utama di balik keputusan tersebut adalah keinginan Leavitt untuk meluangkan waktu lebih banyak bersama keluarganya. Leavitt, yang kini berusia 28 tahun, diketahui baru melahirkan putri pertamanya, Viviana, pada Mei lalu dan baru saja kembali dari cuti melahirkan bulan lalu.
Dalam sebuah unggahan di platform X, Leavitt merefleksikan pilihan sulit ini. Ia mengakui bahwa tuntutan fisik dan mental sebagai juru bicara kepresidenan tidak sejalan dengan komitmen pribadinya sebagai ibu.
"Saya merasa dalam hati bahwa saya tidak bisa menjadi ibu terbaik yang layak didapatkan oleh dua anak saya yang masih kecil, sambil mencurahkan waktu, energi, dan perhatian konstan yang dituntut oleh jabatan Sekretaris Pers Gedung Putih," tulis Leavitt, yang dikutip Kamis 13 Agustus 2026.
Transisi Peran
Meski meninggalkan podium Gedung Putih, hubungan kerja Leavitt dengan Trump dipastikan tidak berakhir. Presiden Trump menyatakan bahwa Leavitt akan beralih peran menjadi salah satu penasihat eksternal utama baginya.
Leavitt mencatatkan sejarah sebagai orang termuda yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Pers Gedung Putih saat ia mulai bertugas pada Januari 2025.
Perjalanannya menuju posisi ini meliputi pengalamannya sebagai staf pers selama masa jabatan pertama Trump, upaya pencalonan di Kongres pada 2022, hingga perannya sebagai juru bicara transisi selama kampanye 2024.
Tantangan dan Dinamika Politik
Keputusan ini datang di tengah masa yang menantang bagi pemerintahan Trump. Tingkat persetujuan publik (approval rating) terhadap presiden saat ini berada pada titik terendah secara historis.
Ketidakpuasan pemilih dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari lonjakan harga barang kebutuhan pokok hingga perang berkepanjangan di Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Selama menjabat, Leavitt dikenal sebagai komunikator yang gigih dan sering kali konfrontatif saat berhadapan dengan awak media. Meski secara personal dikenal ramah di balik layar, ia kerap bersikap tegas bahkan agresif ketika mempertahankan kebijakan Presiden Trump di depan kamera.
Gaya komunikasinya yang lugas menuai pujian dari lingkaran dalam pemerintahan. Menteri Dalam Negeri, Doug Burgum, memuji dedikasi Leavitt melalui media sosial, menyebutnya sebagai "suara yang tak kenal takut" bagi agenda presiden.
Senada dengan itu, Menteri Perdagangan Howard Lutnick menjulukinya sebagai "Sekretaris Pers paling sukses dalam sejarah."
Namun, pandangan berbeda datang dari kubu oposisi. Senator California dari Partai Demokrat, Adam Schiff, memberikan sindiran tajam melalui media sosial, menyatakan bahwa kepergian Leavitt adalah langkah untuk "menghabiskan waktu lebih banyak dengan kebenaran."
Masa Depan Komunikasi Gedung Putih
Hingga berita ini diturunkan, Presiden Trump belum merinci siapa sosok yang akan menggantikan Leavitt. Sejarah menunjukkan bahwa posisi juru bicara Gedung Putih di bawah kepemimpinan Trump merupakan peran yang dinamis.
Pada periode pertamanya, ia tercatat memiliki empat orang Sekretaris Pers yang kini menempuh jalur karier yang beragam, mulai dari gubernur hingga komentator politik.
Pengunduran diri Leavitt menandai berakhirnya satu babak penting dalam dinamika komunikasi pemerintahan Trump saat ini, menyisakan tanda tanya mengenai arah strategi komunikasi Gedung Putih di tengah tantangan ekonomi dan geopolitik yang kompleks.










