TVRINews – Pereira, Kolombia
Pemerintah setempat akui ribuan keluarga terdampak parah dalam bencana maut ini.
Upaya pencarian korban di bawah reruntuhan bangunan akibat gempa bumi dahsyat di wilayah barat Kolombia kini memasuki fase krusial. Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang mengguncang pada Senin 10 Juli 2026 lalu tersebut telah meluluhlantakkan infrastruktur, meratakan bangunan, dan memicu krisis kemanusiaan yang menguji kesiapan pemerintahan Presiden Abelardo de la Espriella.
Presiden de la Espriella, dalam keterangan pers di ibu kota, Rabu 12 Agustus 2026 malam, mengonfirmasi setidaknya 265 orang dinyatakan meninggal dunia.
Data resmi pemerintah mencatat hampir 500 orang dilaporkan hilang, sementara basis data warga sipil memperkirakan angka tersebut mencapai lebih dari 4.100 orang. Secara keseluruhan, tercatat lebih dari 25.800 keluarga terdampak bencana ini.

(Warga mencari di antara reruntuhan setelah gempa di wilayah Cali, Kolombia. (Foto: AP/Santiago Saldarriaga)")
"Upaya kami difokuskan pada mereka yang hilang," tegas Presiden de la Espriella kepada awak media.
Di kota-kota terparah seperti Cali, Pereira, Manizales, dan Quibdo, tim penyelamat bekerja tanpa henti. Rentang waktu 48 hingga 72 jam pertama pascagempa dianggap sebagai jendela emas penyelamatan, meski peluang tersebut dapat bertambah jika korban terjebak di area yang memiliki akses pangan dan air.
Alejandro Eder, Wali Kota Cali, menyatakan bahwa tim penyelamat masih mendeteksi tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan. "Dua puluh jam ke depan adalah waktu paling kritis untuk menemukan dan menyelamatkan orang dalam kondisi hidup. Setiap menit sangatlah vital," ujarnya pada Rabu sore.
Dilema di Tengah Konflik dan Kemiskinan
Situasi di lapangan, khususnya di episentrum gempa di Choco, diperumit oleh faktor kemiskinan kronis dan sejarah konflik bersenjata yang telah menyebabkan pengungsian selama puluhan tahun. Akses menuju komunitas terpencil di wilayah barat laut yang berhutan menjadi hambatan utama, terutama setelah jaringan komunikasi terputus.
Giovanni Rizzo, Direktur Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) untuk Kolombia, menyoroti kompleksitas situasi tersebut. "Gempa ini memperparah situasi kemanusiaan yang sudah berat. Kami memerlukan dukungan lebih besar untuk respons kemanusiaan," ungkap Rizzo.

(Warga mendirikan tenda di sebuah taman dua hari setelah gempa bumi merusak rumah mereka di Pereira, Kolombia, Rabu, 12 Agustus 2026. (Foto: AP/Fernando Vergara))
Sementara itu, komunitas internasional merespons cepat. Amerika Serikat telah menawarkan bantuan senilai lebih dari 15 juta dolar AS, dengan tim tanggap bencana yang mulai tiba sejak Senin. Meksiko telah mengirimkan dua pesawat militer berisi 19,5 ton bantuan logistik, disusul tawaran bantuan serupa dari El Salvador.
Dalam pesan solidaritasnya, Paus Leo XIV menyampaikan dukacita mendalam bagi masyarakat Kolombia. "Saya ingin menyampaikan solidaritas kepada saudari dan saudara saya di Kolombia yang menderita akibat gempa bumi baru-baru ini," tuturnya.
Di tengah upaya pemulihan, otoritas geologi Kolombia mencatat telah terjadi 130 gempa susulan. Rodrigo León Loya, pakar seismologi dari Universitas Andes, mengingatkan bahwa meskipun kemungkinan terjadinya gempa dengan magnitudo serupa di lokasi yang sama relatif rendah, risiko aktivitas seismik di wilayah Kolombia tetap tinggi mengingat banyaknya garis patahan aktif.
"Pertanyaannya bukan apakah hal ini bisa terjadi lagi, melainkan kapan gempa dengan magnitudo serupa akan terjadi di sumber seismik lain di Kolombia," tutup León Loya.










