TVRINews, Burgenstock
Putaran pertama negosiasi di Swiss menghasilkan komitmen 60 hari untuk memulihkan stabilitas Selat Hormuz dan meredakan konflik di Lebanon.
Putaran pertama perundingan tingkat tinggi antara pejabat senior Iran dan Amerika Serikat di Swiss resmi berakhir. Pihak mediator menyatakan kedua negara telah menyepakati sebuah peta jalan (roadmap) menuju kesepakatan final guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lebih dari 100 hari.
Dalam negosiasi maraton yang ditutup pada Senin 22 Juni 2026 waktu setempat, Teheran dan Washington sepakat untuk membangun jalur komunikasi khusus demi menjaga kelancaran jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Selain itu, kedua belah pihak berkomitmen untuk menghentikan konfrontasi bersenjata di Lebanon.
Delegasi kedua negara dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Pertemuan ini membuka masa negosiasi dua bulan yang sebelumnya telah digariskan dalam kesepakatan awal pada pekan lalu.
Pakistan dan Qatar, yang bertindak sebagai mediator, mengungkapkan bahwa para negosiator telah mencapai kesepakatan terkait "peta jalan menuju penyelesaian akhir dalam jangka waktu 60 hari." Pembicaraan tingkat teknis dijadwalkan akan terus berlanjut di resor Burgenstock, Swiss, sepanjang pekan ini.
"Kemajuan yang membesarkan hati telah dicapai, termasuk pembentukan mekanisme untuk dialog teknis lanjutan," sebut pernyataan bersama pihak mediator. Mereka merinci bahwa saluran komunikasi yang dibentuk bertujuan untuk "menghindari insiden dan salah komunikasi" di kawasan Selat Hormuz.
Selain itu, sebuah "sel dekonflik" antara pihak-pihak terkait dan otoritas di Lebanon juga telah disepakati untuk mencegah kembali pecahnya pertempuran di wilayah tersebut.
Dinamika Jalur Diplomasi
Kendati mencapai kesepakatan, jalannya negosiasi sempat diwarnai ketegangan. Delegasi Iran sempat melakukan aksi walk-out merespons pernyataan keras Presiden AS Donald Trump di media sosial, yang mengancam akan menyerang Iran kembali jika kelompok pendukungnya di Lebanon tidak segera menghentikan aktivitas mereka.
Namun, ketegangan tersebut berhasil diredam. Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan optimismenya dan menyebut pertemuan di Swiss ini sebagai "pertemuan bersejarah." Vance menyampaikan bahwa Presiden Trump sebenarnya meminta delegasi untuk membuka lembaran baru guna mentransformasi hubungan dengan rakyat Iran.
"Pertanyaan bagi kita sekarang adalah seberapa banyak lagi yang bisa kita capai bersama? Apakah kita bisa mengubah hubungan di Timur Tengah secara permanen?" ujar Vance kepada wartawan.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi melalui unggahannya di media sosial X menyatakan bahwa mediasi yang gigih dari Pakistan dan Qatar telah membuahkan kemajuan besar. Ia menyebutkan bahwa ekspor minyak dan petrokimia Iran kini dikecualikan dari sanksi, blokade mulai diangkat, dan sebagian aset yang dibekukan telah dilepaskan.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selatan "selama diperlukan" dan menyatakan komitmennya untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Menanggapi isu nuklir, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kembali bahwa Teheran tidak akan melepaskan haknya untuk memperkaya uranium, meski ia membantah keras bahwa negaranya berusaha mengembangkan bom atom.
Hingga Minggu malam, situasi di lapangan dilaporkan relatif tenang tanpa adanya laporan serangan udara baru, memungkinkan sebagian warga di Lebanon selatan untuk mulai kembali ke rumah mereka dengan waspada. Dialog teknis yang berlangsung sepanjang pekan ini akan menjadi pembuktian pertama efektivitas sel dekonflik yang telah disepakati.










