TVRINews – Singapura
Pete Hegseth menegaskan kesiapan militer AS di Forum Shangri-La saat negosiasi damai dengan Teheran masih tertahan.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan bahwa negaranya "lebih dari sekadar mampu" untuk melanjutkan konfrontasi militer dengan Iran. Di sisi lain, Hegseth menunjukkan sikap yang jauh lebih terukur terhadap China dengan menyerukan terciptanya "keseimbangan yang stabil" di kawasan Asia.
Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth dalam pidato utamanya di forum pertahanan regional, Shangri-La Dialogue, di Singapura pada Sabtu 30 Mei 2026.
Pertemuan tingkat tinggi ini dihadiri oleh pejabat pertahanan dan pakar dari sekitar 45 negara. Hegseth hadir memimpin delegasi besar AS, di tengah absennya Menteri Pertahanan China dalam forum tersebut.
Kesiapan Senjata dan Sikap 'Sabar' Trump
Terkait ketegangan di Timur Tengah, Hegseth menegaskan bahwa Washington memiliki kapasitas persenjataan yang siap digunakan kapan saja jika kesepakatan damai gagal tercapai.
"Kemampuan kami untuk memulai kembali (operasi militer) jika diperlukan... kami lebih dari sekadar mampu. Persediaan senjata kami sangat memadai untuk itu, baik di kawasan tersebut maupun di seluruh dunia, jadi kami berada dalam posisi yang sangat baik," ujar Hegseth dikutip AFP.
Ia juga mengungkapkan telah berkomunikasi langsung dengan Presiden Donald Trump pada Sabtu 30 Mei pagi. Menurut Hegseth, Trump menekankan pentingnya komitmen jangka panjang dalam mencapai kesepakatan yang menguntungkan AS.
"Dia (Trump) ingin saya menegaskan kembali betapa sabarnya beliau dalam memastikan bahwa dengan Amerika yang melakukan upaya bersejarah ini, kesepakatan apa pun harus menjadi kesepakatan yang baik, kesepakatan yang hebat, dan dia sabar dalam mengejar hal itu," tambahnya.
Hegseth kembali menegaskan tanggung jawab global AS untuk memastikan Teheran tidak pernah memiliki senjata nuklir. Jika Iran menolak kesepakatan yang diajukan, Hegseth memperingatkan bahwa mereka harus bersiap "berhadapan" dengan kekuatan militer Amerika Serikat.
Ketentuan Ketat Washington
Negosiasi perdamaian saat ini masih tertahan oleh syarat-syarat ketat yang diajukan oleh Gedung Putih. Sebelum memasuki Situation Room pada Jumat 29 Mei untuk membuat keputusan akhir terkait usulan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, Presiden Trump sempat merilis persyaratannya melalui platform Truth Social.

(Platform Truth Social Presiden Donald Trum, Sabtu 29 Mei 2026)
Tuntutan AS mencakup:
• Komitmen mutlak Iran untuk tidak pernah memiliki bom atau senjata nuklir.
• Pembukaan kembali Selat Hormuz dengan segera.
• Pemusnahan total seluruh material atau komponen nuklir Iran.
Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi kepada kantor berita Agence France-Presse (AFP) bahwa Trump hanya akan menyetujui perjanjian jika seluruh syarat tersebut dipenuhi secara penuh oleh pihak Iran. Sementara itu, media resmi pemerintah Iran menyanggah sebagian poin yang diklaim oleh Trump dan menyatakan belum ada kesepakatan akhir yang tercapai.
Fokus AS di Asia-Pasifik Tidak Terganggu
Konflik militer yang diinisiasi oleh AS dan Israel sejak 28 Februari lalu telah berdampak luas, menyebabkan ribuan korban jiwa global terutama di wilayah Iran dan Lebanon serta memicu guncangan ekonomi dunia akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Meski demikian, Hegseth membantah anggapan bahwa fokus Washington akan teralih dari kawasan Asia-Pasifik akibat ketegangan di Timur Tengah.
"Kami bisa melakukan dua hal secara bersamaan. Kami sedang meningkatkan kapasitas basis industri pertahanan kami secara masif, sehingga kami akan memproduksi amunisi dua, tiga, hingga empat kali lipat dalam waktu dekat," pungkas Hegseth, memastikan bahwa seluruh rencana operasi militer AS di seluruh dunia tetap memiliki pendanaan yang solid.










