TVRINews – Washington DC
AS Bersiap Amankan Uranium Teheran di Tengah Negosiasi Nuklir yang Kian Intensif
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kesiapan Washington untuk mengambil tindakan tegas terhadap cadangan uranium Iran. Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Rabu 3 Juni 2026 waktu setempat, Trump menegaskan bahwa AS berencana mengamankan pasokan uranium yang diperkaya milik Teheran dalam waktu dekat.
Keputusan ini disampaikan sebagai bentuk opsi koersif atau militer, meskipun di saat yang sama ia mengklaim proses diplomasi pemulihan kesepakatan nuklir tengah menunjukkan perkembangan positif.
"Kami akan bergerak untuk mengambil alih cadangan uranium Iran yang diperkaya dalam waktu dekat," ujar Trump kepada para jurnalis Whasington. Namun, ia juga menambahkan optimisme lain dengan memprediksi kesepakatan tertulis dapat tercapai dalam hitungan hari. "Mereka sudah sangat dekat untuk menandatangani dokumen, kemungkinan ada kemajuan besar akhir pekan ini."
Pernyataan bernada ancaman ini muncul di hari yang sama saat eskalasi regional kembali memanas. Pemerintah Kuwait melaporkan adanya serangan udara dari pihak Iran yang menewaskan satu orang dan melukai 63 lainnya.
Serangan tersebut menghantam sejumlah fasilitas krusial, termasuk misi diplomatik. Atas insiden ini, Kuwait menegaskan pihaknya memegang hak penuh untuk memberikan respons balasan.
Kendati demikian, Trump memilih untuk meredam signifikansi insiden tersebut demi menjaga momentum negosiasi.
"Mereka melakukan sesuatu, tetapi itu bukan masalah besar. Kami berhasil mengatasinya dengan cepat menggunakan kekuatan militer terbaik di dunia," kata Trump.
Titik Terang Selat Hormuz
Fokus utama dari draf kesepakatan yang sedang digodok adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran internasional yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia tersebut telah diblokade secara efektif oleh Iran sejak konflik terbuka pecah awal tahun ini. Trump menjanjikan bahwa jalur logistik vital tersebut akan segera dibuka kembali begitu dokumen perjanjian resmi ditandatangani.
Meski kemajuan diplomatik terus digembungkan oleh Gedung Putih, Washington tetap memberlakukan syarat yang ketat. Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat minggu ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa pemerintah belum memberikan kompromi berupa pelonggaran sanksi ekonomi maupun pencairan aset Iran yang dibekukan.
Menurut Rubio, konsesi tersebut hanya akan diberikan setelah Teheran merealisasikan komitmennya untuk membatasi program nuklir dan menyetujui mekanisme pembuangan uranium yang diperkaya.
Jalur Diplomasi Lebanon dan Hezbollah
Di sisi lain, dinamika geopolitik ini juga menyentuh konflik di Lebanon. AS mengonfirmasi telah membuka jalur komunikasi langsung yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan kelompok Hezbollah.
Melalui mediasi tersebut, Trump mengklaim bahwa Hezbollah dan Israel telah sepakat untuk menghentikan kontak senjata secara temporer. Walau demikian, Gedung Putih menegaskan tetap berupaya memisahkan isu stabilitas di Selat Hormuz dengan gencatan senjata di Lebanon agar kedua negosiasi tidak saling menyandera.
Upaya pencapaian kesepakatan ini berjalan di atas landasan yang rapuh. Hubungan AS-Iran terus diuji oleh rangkaian serangan balasan sejak konfrontasi perdana pecah pada 28 Februari lalu,
ketika AS dan Israel menggempur infrastruktur militer serta nuklir Iran. Langkah Teheran yang membalas lewat serangan ke wilayah Kuwait, Arab Saudi, dan Bahrain sempat mengancam status gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi oleh Pakistan pada April lalu.
Saat ini, tim negosiasi dari kedua belah pihak dilaporkan telah memegang draf nota kesepahaman (MoU) sejak pekan lalu. Perjanjian awal ini diharapkan dapat memperpanjang masa gencatan senjata secara formal, memulihkan navigasi di Selat Hormuz, dan menyusun lini masa baru bagi perundingan program nuklir serta rudal balistik Iran ke depan.










