TVRINews - Teheran
Negosiasi Senyap Terus Berjalan di Tengah Ketegangan Militer dan Aksi Saling Balas Antara Teheran dan Washington
Di tengah eskalasi militer yang kian memanas, Pemerintah Iran menyatakan bahwa seluruh pihak terkait tengah mengkaji dokumen kesepakatan guna merumuskan "formula akhir" untuk mengakhiri konfrontasi. Meski demikian, Teheran menegaskan bahwa era ancaman tanpa balasan terhadap negaranya telah berakhir.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Rabu 3 Juni 2026 Malam Waktu setempat mengonfirmasi bahwa saluran komunikasi dengan Washington secara teknis belum terputus, walaupun ia mengakui proses negosiasi saat ini mengalami stagnasi.
"Kontak kami dengan AS tidak terputus, namun belum ada kemajuan signifikan dalam negosiasi. Kedua belah pihak saat ini sedang mempelajari teks-teks yang telah dipertukarkan," ujar Araghchi dalam wawancaranya bersama lembaga penyiaran Lebanon, Al-Mayadeen.
Ketegangan Regional di Kuwait
Pernyataan diplomatik tersebut muncul bersamaan dengan aksi militer Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran yang meluncurkan serangan ke wilayah Kuwait. Pihak IRGC mengklaim telah melakukan "serangan rudal yang presisi dan terkonsentrasi" terhadap basis militer Amerika Serikat (AS) di negara tersebut, sebagai bentuk respons atas serangan AS sebelumnya terhadap Iran.
Pemerintah Kuwait mengecam keras pelanggaran kedaulatan tersebut. Sistem pertahanan udara Kuwait dilaporkan berhasil mengintersepsi sejumlah rudal dan pesawat tanpa awak (drone) yang menyasar wilayah mereka.
Sebagai sekutu yang menampung pangkalan militer AS dalam jumlah signifikan, Kuwait menyatakan memegang hak penuh untuk merespons tindakan ini sesuai dengan hukum internasional.
Melalui unggahannya di media sosial X, Menlu Araghchi membela langkah militer tersebut sebagai tindakan defensif. Ia menyebut pasukan Iran melakukan "serangan bela diri" terhadap situs-situs yang digunakan AS untuk menyerang pelayaran sipil dan melanggar gencatan senjata.
"Setiap tindakan permusuhan akan ditanggapi dengan respons yang cepat dan tegas. Apa yang gagal dicapai melalui sanksi dan perang tidak akan pernah bisa dimenangkan dengan lebih banyak peperangan," tegas Araghchi.
Peringatan Keras Terkait Beirut
Selain ketegangan di Teluk, Iran juga memberikan peringatan keras kepada Israel terkait situasi di Lebanon. Araghchi menegaskan bahwa setiap serangan Israel yang menyasar ibu kota Beirut akan memicu dimulainya kembali perang skala penuh secara total.
Sinyal bahaya ini menyusul rencana perluasan operasi darat Israel dan ancaman serangan terhadap wilayah pinggiran selatan Beirut. Situasi ini turut memicu perhatian global, termasuk dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Trump dilaporkan merasa terganggu dengan rencana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menyatakan bahwa pasukan Israel tidak akan bergerak menuju Beirut.
Di lain pihak, perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan pesan yang lebih agresif melalui kantor berita lokal ISNA.
"Hari ini, bangsa Iran dalam pertempurannya melawan Amerika dan rezim Zionis telah menunjukkan bahwa era ancaman bebas biaya terhadap Iran telah berakhir. Setiap agresi akan dihadapi dengan jawaban yang tegas, proporsional, dan akan mereka penyesali," tutur Ghalibaf.
Upaya Diplomasi di Balik Layar
Meskipun retorika militer kedua belah pihak terus menajam, upaya preventif untuk mencegah perang terbuka masih diupayakan di balik layar. Pakistan bertindak sebagai mediator dalam pembicaraan multilateral yang mencakup isu-isu krusial. Beberapa poin utama yang dibahas meliputi kebebasan navigasi di Selat Hormuz, program nuklir dan rudal balistik Iran, pelonggaran sanksi ekonomi, hingga kerangka perdamaian jangka panjang.
Kendati proses pengkajian draf perjanjian terus berjalan, pihak Iran meminta semua pihak untuk tidak terlalu optimis secara prematur. Araghchi menyebut berbagai kabar yang beredar di luar saat ini masih bersifat spekulasi.
Sementara itu, pihak Gedung Putih menegaskan posisi Washington dalam perundingan ini. Perwakilan resmi AS menyatakan bahwa Presiden Trump hanya akan menyepakati perjanjian yang menguntungkan kepentingan Amerika, memenuhi batas-batas kebijakan yang telah ditetapkan, serta memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.










