TVRINews – Jerusalem
Gencatan Senjata Kembali Dilanggar, Komandan Senior Hamas Turut Tewas di Gaza
Eskalasi militer kembali memanas di Timur Tengah setelah militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara di wilayah selatan Lebanon Mingguu 17 Mei 2026 Dini Hari
Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah delegasi kedua negara menyepakati perpanjangan masa gencatan senjata.
Otoritas keamanan Lebanon melaporkan sedikitnya enam orang tewas dalam peristiwa tersebut. Tiga di antaranya merupakan petugas medis yang tengah bertugas di sebuah pusat kesehatan setempat.
Menurut laporan media resmi pemerintah Lebanon, serangan udara tersebut menghantam sebuah klinik yang dikelola oleh Komite Kesehatan Islam di wilayah selatan.
Sementara itu, pihak militer Israel menyatakan bahwa operasi tersebut menargetkan infrastruktur milik kelompok Hizbullah yang dituduh tengah bersiap meluncurkan roket ke arah posisi pasukan Israel.
*Komandan Militer Hamas Tewas di Gaza*
Secara bersamaan, militer Israel juga mengonfirmasi keberhasilan operasi udara di Jalur Gaza yang menewaskan Izz al-Din al-Haddad, seorang komandan militer senior Hamas.
Al-Haddad diidentifikasi sebagai salah satu perencana utama dalam serangan lintas batas pada 7 Oktober 2023 lalu.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, telah mengonfirmasi kabar kematian tersebut melalui pernyataan resmi di media sosial. Pihak keluarga menyatakan bahwa serangan tersebut juga menewaskan istri dan anak perempuan Al-Haddad.
Kepala Staf Angkatan Darat Israel menegaskan bahwa operasi ini merupakan pencapaian signifikan dalam upaya penegakan keamanan nasional mereka.
"Kami akan terus mengejar dan meminta pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang mengancam keamanan warga kami," tegasnya dalam sebuah pernyataan resmi yang di kutip The Guardian.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Rentetan serangan terbaru ini memicu kekhawatiran global akan potensi kembalinya konflik skala penuh di kawasan tersebut. Padahal sebelumnya, utusan dari Israel dan Lebanon baru saja menyelesaikan putaran perundingan diplomatik di Washington.
Kedua belah pihak awalnya telah sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata parsial selama 45 hari ke depan, di bawah pengawasan mekanisme keamanan yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
Namun, situasi di lapangan tetap tegang. Pihak Hizbullah secara terbuka menolak hasil perundingan tersebut. Di sisi lain, implementasi gencatan senjata yang diinisiasi sejak pertengahan April lalu dinilai belum berjalan sepenuhnya, mengingat pembatasan operasi militer hanya berlaku di wilayah Beirut dan Lebanon utara, sementara wilayah selatan masih terus bergejolak.










