TVRINews, Beirut
Ketegangan Kembali Memuncak di Lebanon Selatan Pasca-Kesepakatan Perpanjangan Gencatan Senjata di Washington.
Militer Israel kembali melancarkan gelombang serangan udara baru yang menargetkan infrastruktur kelompok Hizbullah di wilayah Lebanon selatan pada Sabtu 16 Mei 2026.
Eskalasi militer ini terjadi hanya berselang satu hari setelah kedua belah pihak sepakat untuk memperpanjang masa gencatan senjata melalui rangkaian diplomasi intensif di Washington, Amerika Serikat.
"Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah mulai menyerang situs-situs infrastruktur Hizbullah di beberapa wilayah di Lebanon selatan," demikian pernyataan resmi yang dirilis oleh otoritas militer Israel, Sabtu 16 Mei.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa operasi udara tersebut menghantam sedikitnya lima desa di wilayah selatan. Serangan ini memicu gelombang pengungsian baru, di mana warga sipil berbondong-bondong melarikan diri menuju kota pesisir Sidon serta ibu kota Beirut guna mencari keselamatan.
Sebelum membombardir wilayah tersebut, militer Israel dilaporkan telah mengeluarkan perintah evakuasi darurat bagi penduduk di sembilan desa yang berada di kawasan Sidon dan Nabatieh.
Jalur Diplomasi di Tengah Konflik
Eskalasi terbaru ini menguji ketahanan komitmen diplomatik yang baru saja dicapai. Sebelumnya, utusan dari Israel dan Lebanon mengadakan negosiasi di Washington, melanjutkan dialog langsung pertama dalam beberapa dekade terakhir antara dua negara yang secara resmi tidak memiliki hubungan diplomatik tersebut.
Meski Hizbullah yang didukung oleh Iran secara konsisten menolak negosiasi dan terus mengklaim serangkaian serangan terhadap Israel utara serta pasukan IDF di Lebanon selatan sejak gencatan senjata pertama kali berlaku pada 17 April, delegasi Lebanon di Washington tetap menyambut baik hasil pertemuan hari Jumat 15 Mei 2026.
Dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis melalui Presidensi Lebanon, delegasi perunding menyatakan:
"Perpanjangan gencatan senjata dan pembentukan jalur keamanan yang difasilitasi oleh Amerika Serikat memberikan ruang bernapas yang sangat penting bagi warga negara kami, memperkuat institusi negara, serta memajukan jalur politik menuju stabilitas yang langgeng." Kutip AFP.
Dampak Kemanusiaan yang Meluas
Konflik yang berkepanjangan ini telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan di kedua belah pihak.
Berdasarkan data resmi dari otoritas sekuriti dan kesehatan Lebanon, serangan Israel sejak awal konfrontasi telah menewaskan lebih dari 2.900 orang di Lebanon, di mana lebih dari 400 korban jiwa tercatat justru setelah gencatan senjata sempat disepakati.
Di sisi lain, pihak militer Israel juga melaporkan kehilangan 19 tentara mereka yang gugur dalam pertempuran darat di Lebanon selatan sejak eskalasi dengan Hizbullah pecah.
Krisis regional ini pertama kali menyeret Lebanon ke dalam pusaran perang Timur Tengah pada 2 Maret lalu, ketika Hizbullah melepaskan rentetan roket ke wilayah Israel.
Aksi tersebut diklaim sebagai bentuk balasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di lapangan dilaporkan masih sangat dinamis dengan kekhawatiran akan runtuhnya kesepakatan damai yang baru berusia hitungan jam.










