TVRINews – Moskow
Usai Bertemu Trump, Xi Jinping Bersiap Sambut Vladimir Putin di Beijing untuk Perkuat Aliansi Ekonomi dan Regional.
Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan selama dua hari ke Beijing, China, pada pekan depan.
Agenda strategis ini diumumkan oleh Kremlin pada Sabtu waktu setempat, hanya berselang kurang dari 24 jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyelesaikan kunjungan resminya di China.
Dalam kunjungan sebelumnya, Trump juga melakukan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping guna membahas isu perdagangan global, serta perkembangan terkini terkait konflik bersenjata antara AS dan Israel di Iran.
Kremlin mengonfirmasi bahwa lawatan Putin yang dijadwalkan pada 19–20 Mei 2026 tersebut bertepatan dengan momentum peringatan 25 tahun Perjanjian Persahabatan Sino-Rusia yang ditandatangani pada 2001 silam. Selain merayakan hubungan bilateral, kedua pemimpin negara tersebut akan membahas kerja sama ekonomi serta berbagai isu krusial di tingkat regional maupun internasional.
"Hubungan antara Beijing dan Moskow terus mengalami penguatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah Rusia menghadapi isolasi politik dari negara-negara Barat akibat operasi militer skala penuh di Ukraina sejak awal 2022," tulis laporan analisis diplomatik yang dikutip AP News.
Hubungan ini membuat Moskow kini sangat bergantung pada Beijing sebagai mitra dagang utama di tengah hantaman sanksi ekonomi Barat.
Kedekatan kedua pemimpin ini bukan hal baru. Saat Putin berkunjung ke China pada September 2025, Xi Jinping menyambutnya dengan hangat sebagai "sahabat lama", sebuah sapaan yang dibalas Putin dengan sebutan "sahabat karib".
Setelah kunjungan pekan depan, pemimpin Rusia tersebut juga dijadwalkan kembali menyambangi China pada November mendatang untuk menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang akan digelar di Shenzhen.
Pemulangan Jenazah Tentara dan Eskalasi Serangan Udara
Di tengah dinamika diplomasi tingkat tinggi di Asia, situasi di medan laga Eropa Timur tetap membara. Pada Sabtu yang sama, Ukraina berhasil merepatriasi ratusan jenazah tentaranya yang gugur, menyusul proses pertukaran tawanan perang yang dilakukan dengan pihak Moskow sehari sebelumnya.
Berdasarkan pernyataan resmi dari Markas Koordinasi Penanganan Tawanan Perang Ukraina, Rusia telah mengembalikan 528 jenazah.
"Menurut pihak Rusia, jenazah-jenazah tersebut kemungkinan besar merupakan personel militer Ukraina," ungkap lembaga koordinasi tersebut dalam rilis resminya. Pihak berwenang menambahkan bahwa tim ahli akan segera mengambil langkah-langkah identifikasi forensik yang diperlukan.
Proses repatriasi ini berjalan beriringan dengan rampungnya pertukaran 205 tawanan perang pada hari Jumat. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa kesepakatan ini merupakan fase pertama dari rencana besar pertukaran 1.000 tawanan perang dari masing-masing pihak.
Beberapa tentara Ukraina yang dibebaskan merupakan mereka yang telah ditahan sejak 2022 setelah terlibat dalam pertempuran paling sengit.
Namun, diplomasi kemanusiaan ini tidak menghentikan konfrontasi militer. Otoritas regional Ukraina melaporkan bahwa Rusia meluncurkan serangan pesawat tanpa awak (drone) besar-besaran yang menyasar wilayah Odesa di selatan Ukraina pada Sabtu dini hari.
Gubernur regional Odesa, Oleh Kiper, mengonfirmasi bahwa hantaman drone tersebut merusak sebuah blok apartemen lima lantai, satu rumah warga, serta fasilitas pelabuhan kota. Insiden tersebut juga dilaporkan melukai dua orang warga sipil.
Angkatan Udara Ukraina menyatakan berhasil melumpuhkan sebagian besar ancaman udara tersebut. Dari total 294 drone yang diluncurkan oleh Rusia dalam semalam, sistem pertahanan udara Ukraina mengklaim telah menjatuhkan 269 di antaranya.
Seolah menegaskan bahwa perang asimetris ini terjadi di kedua belah pihak, Kementerian Pertahanan Rusia secara terpisah mengumumkan bahwa sistem pertahanan mereka juga berhasil menjatuhkan 138 drone kiriman Ukraina yang menyasar 14 wilayah Rusia, termasuk wilayah ibu kota Moskow, wilayah semenanjung Crimea yang dianeksasi, serta kawasan Laut Hitam dan Laut Azov.










