TVRINews – Teheran/Washington
Krisis Kemanusiaan Memuncak di Tengah Ketidakpastian Damai AS-Iran
Di tengah diplomasi tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang tengah menimbang kesepakatan damai, krisis kemanusiaan terlihat di jalur perdagangan paling vital di dunia.
Sekitar 20.000 pelaut kini terjebak dalam ketidakpastian di kawasan Teluk menyusul penutupan Selat Hormuz.
Salah satunya adalah Anish, seorang pelaut asal India yang telah menghabiskan sepuluh minggu terakhir terombang-ambing di pelabuhan Iran.

(Sejumlah kapal terlihat sedang berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran selatan [Arsip: Amirhossein Khorgooei/ISNA melalui AFP])
Kehadirannya di perairan Shatt al-Arab, yang semula untuk tugas logistik rutin, berubah menjadi kesaksian langsung atas kecamuk perang.
“Kami menghadapi seluruh situasi di sini; perang, rudal,” ujar Anish (bukan nama sebenarnya) kepada Al Jazeera melalui saluran komunikasi yang terbatas. “Pikiran kami benar-benar terganggu.”Kamis 7 Mei 2026.
Labirin Birokrasi dan Keamanan
Penderitaan para pelaut ini bukan sekadar soal keamanan fisik, melainkan juga kebuntuan finansial. Sebagian pelaut berhasil pulang melalui perbatasan darat Iran dengan Armenia, namun ribuan lainnya bertahan karena upah yang tak kunjung dibayarkan oleh agen perekrut.
“Beberapa terjebak karena agen mereka tidak memberikan gaji. Yang lain tertahan karena pihak lokal menolak memberikan mata uang dolar untuk biaya perjalanan ke Armenia,” tambah Anish, yang mengaku kini hanya bertahan hidup dengan stok makanan seadanya berupa kentang, bawang, dan roti pipih.
Jalur Vital yang Lumpuh
Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz adalah urat nadi ekonomi global, mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Namun, eskalasi militer yang dipicu oleh "Operasi Epic Fury" pada Februari lalu telah mengubah jalur ini menjadi zona bahaya. Meskipun gencatan senjata sementara diumumkan pada 7 April, realitas di lapangan tetap mencekam.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan pihaknya masih terus mencegat ancaman dari proyektil dan drone Iran. Di sisi lain, Teheran menuduh Washington melanggar kesepakatan dengan melakukan serangan udara di wilayah sipil, termasuk Pulau Qeshm.
"Sejak awal tahun, kita melihat kekuatan militer menaiki kapal seolah-olah ini adalah abad ke-17. Ini mengerikan. Mereka hanyalah pekerja, hanya pelaut," ujar Stephen Cotton, Sekretaris Jenderal International Transport Workers’ Federation (ITF).
Krisis Kemanusiaan yang Belum Pernah Terjadi
Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyebut situasi ini sebagai krisis kemanusiaan "unprecedented" atau yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain ancaman serangan langsung, bahaya ranjau laut yang ditebar secara acak menjadi penghalang utama evakuasi.
Scott Savitz, insinyur senior di Rand Corporation, memperingatkan bahwa pembersihan ranjau di selat tersebut bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. "Ketidakpastian adalah inti dari perang ranjau," ungkapnya.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan damai menunjukkan progres positif. Namun bagi Anish, yang kontraknya berakhir pada 20 Mei mendatang, diplomasi di gedung-gedung mewah terasa sangat jauh dari kenyataan pahit di atas geladak kapal.
Hingga saat ini, para pelaut lintas negara ini hanya bisa menunggu; di antara ancaman rudal yang melintas di langit dan harapan akan upah yang menjadi hak mereka untuk dibawa pulang ke keluarga.










